Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) COVID-19 mengubah Gereja menjadi digital

COVID-19 mengubah Gereja menjadi digital

Menjadi Gereja digital saat ini adalah suatu keharusan, suatu kenyataan yang tak terbantahkan, yang disebabkan oleh epidemi virus corona saat ini yang terus mengunci sebagian besar warga dunia dan menghambat kawanan domba untuk mengikuti kegiatan rohani di gereja-gereja paroki mereka.

Paus Fransiskus yang menyampaikan Urbi et Orbi di depan lapangan Vatikan yang kosong, dan memimpin Misa Minggu Palem di belakang altar utama St. Petrus, menjadi pemandangan yang tak pernah diperkirakan sebelumnya akan terjadi.

Tapi itu sudah terjadi. Baik atau buruk, Gereja telah menjadi digital. Bapa Suci sendiri telah menjangkau umat melalui kekuatan internet.

Hal ini direplikasi ratusan atau bahkan ribuan kali melalui siaran langsung Misa Kudus yang dilakukan oleh para uskup dan imam di seluruh dunia. Dan mereka akan melakukannya lagi di hari-hari mendatang saat umat merayakan Pekan Suci, yang merupakan hari-hari penting dalam kekristenan.




Gereja tidak dapat mengandalkan paus saja atau bahkan para uskup saja untuk kehadiran secara online. Masih belum ada pengganti atas homili para pastor paroki yang dapat menghubungkan Injil dengan keadaan khusus komunitas. Tantangannya sekarang adalah agar semua paroki hadir secara online, dan menyelenggarakan Misa Kudus untuk umat melalui siaran langsung.

Di Filipina, semakin banyak paroki dengan cepat menyesuaikan diri dengan situasi baru dengan mengumumkan jadwal Misa Kudus online. Dengan bantuan dari kaum awam, para imam mendapatkan kamera, komputer, dan koneksi yang diperlukan untuk siaran langsung.

Dengan demikian, sekarang hanya masalah waktu bagi semua paroki hadir secara online, dan menjadikan siaran langsung Misa Kudus sebagai bagian rutin dari pekerjaan mereka bahkan setelah epidemi berakhir.

- Newsletter -

Beberapa orang akan berpendapat bahwa tidak perlu membuat siaran langsung di tingkat paroki menjadi sesuatu yang permanen, karena selalu ada perayaan Misa Kudus di televisi dan TV kabel. Tetapi Misa seperti ini tidak memiliki lokalisasi yang diperlukan untuk membuat Injil menjadi lebih relevan bagi umat Katolik di mana pun mereka berada.

Fenomena Gereja Katolik menjadi digital dan online menjadi berita baik bagi kaum migran yang merindukan keterbungan dengan komunitas tempat mereka berasal. Mereka pasti akan lebih senang mengikuti Misa Kudus bersama dengan tetangga mereka, yang disiarkan dari gereja tempat mereka dibesarkan.

Selain itu, Gereja Katolik harus selalu berusaha untuk terus menerus menjadi universal. Langkah-langkah awal telah diambil oleh Paus St. Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI, dan sekarang Paus Fransiskus.

Takhta Suci memiliki situs web yang dalam. Paus juga secara rutin menggunakan tweeter. Dengan kekuatan teladan hidup, Paus Fransiskus menunjukkan kepada para uskup dan imam bahwa epidemi tidak bisa menghentikan Gereja untuk menjangkau umat.

Gereja tidak boleh terbatas pada gereja paroki atau katedral saja. Gereja harus hadir online dan menjangkau umatnya.

Seorang teknisi melakukan streaming online perayaan Misa Kudus saat Minggu Palem di Keuskupan Cubao, di Manila, Filipina. (Foto oleh Mark Saludes)

Di luar Gereja, fenomena ini disebut transformasi digital. Banyak yang mencoba untuk meyakinkan pemerintah dan bisnis akan manfaat dari kehadiran secara online dan digital. Sedikit yang kita ketahui bahwa pandemi corona telah membuat kita mencapai transformasi yang hampir total ini di tingkat tertinggi Gereja, bisnis, dan pemerintahan.

Ada kesempatan lain bagi Gereja saat ini untuk mengklaim ruangnya secara online. Kita berharap Paus Fransiskus akan mendukung perjuangan untuk menjadikan akses internet sebagai hak, dan bukan hak istimewa, mendukung perlindungan hak privasi terhadap pengawasan, dan mendukung kebebasan berekspresi dan kebebasan berkeyakinan tidak hanya offline, tetapi juga online.

Satu hal yang berlaku untuk gereja Katolik adalah bahwa ia menjadi penyedia layanan kesehatan dan pendidikan terbesar di dunia di luar pemerintahan. Gereja memiliki orang-orang hebat untuk membuat digitalisasi seperti itu berfungsi di banyak tingkatan. Dan saya tekankan lagi, gereja juga memiliki banyak ilmuwan and ahli kesehatan yang dapat meningkatkan kesadaran publik dan bahkan menawarkan solusi atas epidemi ini.




Sementara itu, ada hal-hal mendesak saat ini. Masyarakat sekarang berharap untuk berpartisipasi dalam perayaan Pekan Suci secara online. Tetapi ada banyak orang yang tidak dapat menerima sakramen pengakuan dosa, karena penguncian dan karantina di banyak negara.

Apakah kita juga akan melakukan pengakuan secara online? Atau akankah Gereja untuk pertama kalinya dalam ingatan memberikan absolusi kepada semua orang yang ingin mengaku dosa tetapi tidak dapat secara fisik bertemu dengan seorang imam?

Akankah Gereja menyetujui berkat virtual atas jenasah umat Katolik yang meninggal karena COVID-19 sebelum dikremasi atau bentuk disposisi lainnya sebagaimana diatur oleh hukum setempat?

Kita tidak tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini untuk saat ini, tetapi saya yakin kekhawatiran ini telah sampai ke telinga para pastor, uskup, dan paus.

Tonyo Cruz adalah seorang blogger Filipina, kolumnis surat kabar, dan penemu aliansi media dan seni Let’s Organize for Democracy and Integrity. Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah dari penulis dan tidak mencerminkan posisi editorial resmi LiCAS.news

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest