Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Muslim, Hindu di India adakan pemakaman online, Katolik tidak

Muslim, Hindu di India adakan pemakaman online, Katolik tidak

Penguncian di India yang bertujuan menekan COVID-19 telah menyebabkan beberapa ulama Muslim dan Hindu menggunakan aplikasi dan layanan panggilan video online untuk pemakaman.

Ayah Imtiyaz Hussain meninggal minggu lalu, tetapi dia mengatakan kepada LiCAS.news bahwa seorang ulama Muslim tidak dapat melakukan ritual terakhir secara pribadi karena adanya pembatasan.

Hanya Imtiyaz dan beberapa sepupunua yang dapat menghadiri doa pemakaman di kuburan leluhur keluarga di ibu kota India, New Delhi.




Seorang ustad merekam doa-doa dan mengirimkannya ke telepon Imtiyaz melalui Whatsapp yang kemudian diputar di dekat makam ayahnya.

“Saya sendiri melakukan ‘jinaza’ (doa pemakaman) tetapi ada ayat-ayat khusus dari Al-Qur’an yang perlu dibaca dekat kuburan setelah penguburan,” kata Imtiyaz.

“Saya tidak ingat semuanya dan itu sebabnya saya meminta Molvi Sahib (ulama) untuk merekam dan mengirimkannya kepada saya,” katanya.

“Kami hanya mengatakan ‘amiin’ untuk setiap doa yang dibacakan ulama dalam video. Saya berharap Tuhan akan memaafkan kesalahan kami saat proses pemakaman, tetapi saat-saat seperti ini memang aneh dan tidak lazim, ”katanya.

- Newsletter -

“Apa lagi yang bisa kita lakukan selain ini?” dia bertanya.

Moulana Junaid Bashir Ahmad, seorang ulama senior Muslim yang berbasis di wilayah utara India Kashmir, mengatakan kepada LiCAS.news bahwa tidak ada yang mengikat dalam Islam bahwa doa pemakaman harus dibacakan oleh seorang ulama saja.

“Siapa pun dapat melafalkannya dan pada saat seperti ini. Metode alternatif yang diadopsi seperti panggilan video dan aplikasi streaming langsung menjadi kebutuhan saat ini,” kata Ahmad. “Mereka tidak dilarang jika digunakan untuk kebaikan.”

Lilin yang dinyalakan oleh peziarah di kuil Hindu di India. (Foto shutterstock.com)

Prem Nath, yang ibunya wafat pada 2 Mei, dijadwalkan menjalani 10 hari ‘kirya’ (upacara terakhir) pada 12 Mei. Dengan adanya lockdown, ritual Hindu ‘puja’ tidak dapat dilakukan untuk almarhumah.

Akan tetapi putra dari seorang murid Prem mengusulkan agar diadakan panggilan video dengan seorang imam Hindu.

“Kami memanggil ‘Pandit Ji’ (pemuka agama) dan bertanya kepadanya apakah ia dapat bergabung dengan kami melalui video call dan melakukan upacara pemakaman,” kata Prem.

Keluarga itu meletakkan foto almarhum di dekat sajadah yang memiliki bunga marigold di satu sisi dan ponsel di sisi lain.

Dengan tangan terlipat dan mata tertutup, keluarga itu mendengarkan pemimpin mereka menyanjikan pujian dan doa melalui video.

“Kami berdoa untuk jiwa ibu saya yang telah meninggal,” kata Prem. Jika ritual ini tidak dilakukan, umat Hindu percaya bahwa jiwa akan mengembara dan tidak dapat memasuki surga.

“Kami berdoa kepada Tuhan agar doa-doa kami diterima dan memberikan kedamaian bagi jiwa nenek saya yang sudah meninggal,” kata Ishaan, putra Prem.

Ishaan mengatakan setelah ritual itu selesai, keluarga mentransfer sejumlah uang, yang dikenal sebagai ‘dikhsha’ langsung ke rekening imam dan membayarnya secara penuh.




“Tuhan melihat niat hati kita dan bukan tindakan yang dangkal. Niat kami adalah melaksanakan ritual dengan semangat yang benar dan kami melakukan itu, tidak peduli hambatan apa pun yang kami hadapi, ”katanya.

Tetapi para imam Katolik tidak akan meniru apa yang dilakukan para ulama Muslim dan Hindu dalam menggunakan aplikasi online untuk pemakaman selama penguncian.

Pastor Paul Moonjely yang berbasis di New Delhi mengatakan tidak ada layanan pemakaman digital untuk umat Katolik di ibu kota negara itu selama penutupan. Sebaliknya, ia mengatakan bahwa para imam memastikan bahwa mereka dapat pergi ke kuburan untuk upacara pemakaman.

“Gereja percaya akan kehidupan setelah kematian,” kata Pastor Paul. “Dan karena itu, upacara terakhir dilakukan dengan cara sebaik mungkin. Ini adalah perjalanan ke surga dan harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Tidak seorang pun dari umat Katolik yang penguburannya dilakukan secara online,” kata Pastor Paul.

“Kami menjaga jarak sosial dan mengambil semua tindakan pencegahan selama pemakaman. Namun, kehadiran fisik untuk upacara terakhir tidak bisa dihindari, ”tambah Pastor Paul.

Menurut Uskup Francis Serrao dari Shimoga, di negara bagian Karnataka, ‘E-Funerals’ tidak diizinkan dalam agama Kristen. Untuk pelaksanaan sakramen seseorang harus hadir secara fisik, katanya.

Seorang imam Katolik dan misdinar tiba untuk pemakaman seorang Katolik di Hyderabad India pada 25 Januari 2018. (Foto shutterstock.com)

“Kami tidak dapat memberikan sakramen melalui aplikasi online. Kami tidak dapat menggunakan media untuk Misa dan mengatakan ini adalah Misa reguler atau layanan apa pun dalam hal ini, ”kata Uskup Serrao.

Namun, uskup itu mengatakan jika layanan itu bersifat spiritual maka diizinkan sejauh para peserta mengambil bagian dalam doa dan itu bermanfaat bagi pertumbuhan rohani mereka.

“Tapi itu tidak menjadi sakramen,” jelasnya.

Vajay Soni, seorang Katolik yang tinggal di Mumbai, berharap yang terbaik ketika ia harus menggunakan bantuan digital agar ayahnya yang sakit parah dapat menerima ritual pengurapan di rumah sakit yang dikelola pemerintah.
“Imam itu tidak bisa datang ke rumah sakit karena pembatasan. Saya mencoba menghubunginya untuk melakukan ritual pengurapan bagi ayah saya melalui video call,” kata Soni.

“Kami berharap bahwa doa-doa ini akan diterima di hadapan Allah seperti doa-doa yang sebenarnya. Orang tidak bisa memikirkan cara lain selama saat-saat seperti ini, ”katanya.

Jaswant Kumar, seorang peneliti tentang agama-agama perbandingan yang tinggal di New Delhi mengatakan kepada LiCAS.news bahwa pendekatan masing-masing agama perlu diminimalkan mengingat pandemi saat ini.

“Dewasa ini teknologi berkembang cepat. Para pemimpin agama harus menjadi lebih akomodatif dalam pendekatan mereka dan mengadopsi cara-cara baru akan membuat agama lebih mudah didekati oleh generasi muda, ”kata Kumar.

“Religiusitas tidak akan hilang melalui ini tetapi akan berkembang melalui pragmatisme dan perpaduan iman dan teknologi terbaru,” katanya.

Pemerintah federal India yang dipimpin oleh Perdana Menteri Narendra Modi memberlakukan penguncian di seluruh negera itu sebagai tindakan pencegahan terhadap pandemi COVID-19 pada 24 Maret. Pemerintah India membatasi pergerakan 1,3 miliar penduduk negara itu dan menutup banyak industri. Pemerintah juga telah memperingatkan bahwa siapa pun yang tidak mengikuti pembatasan akan dihukum satu tahun penjara.

Pada 14 Mei, India memiliki lebih dari 78.000 kasus terkonfirmasi virus corona yang telah menewaskan lebih dari 2.500 orang di negara ini.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest