Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Injil Kemakmuran menjadi hambatan besar bagi agama Kristen di Asia

Injil Kemakmuran menjadi hambatan besar bagi agama Kristen di Asia

Seorang pemimpin Gereja Katolik di Asia, Kardinal Charles Maung Bo, memperingatkan bahwa pengaruh Injil Kemakmuran di wilayah Asia telah menjadi hambatan yang sangat besar bagi pewartaan agama Kristen di wilayah tersebut.

Dalam pesannya pada hari Minggu Pentakosta, Kardinal Charles Maung Bo dari Yangon mengatakan Roh Kudus dipahami secara keliru oleh mereka yang mengaku sebagai “gereja yang diurapi.”

Dia mengatakan sebagian besar pewarta “injil kemakmuran” menyalahgunakan Roh Kudus dengan terus menerus membuat ramalan dan berbicara dalam bahasa roh dan mengklaim telah dikuatkan oleh Roh Kudus.

Gereja Katolik pada hari Minggu, 31 Mei, merayakan Pentakosta atau peringatan turunnya Roh Kudus ke atas para murid Yesus, 50 hari setelah kebangkitan-Nya.




Gereja mengajarkan bahwa hari Minggu Pentakosta dirayakan untuk mengenali karunia Roh Kudus, menyadari bahwa kehidupan, nafas, dan kekuatan Allah yang sejati hidup dalam diri mereka yang percaya.

Meskipun dia menekankan perlunya Gereja Katolik “untuk mendapatkan kembali kuasa kehadiran Roh Kudus,” Kardinal Bo mengatakan sebaliknya “injil kemakmuran” mengajarkan orang beriman untuk “melarikan diri” dari kenyataan.

Kardinal Bo berkata “mega pastor” yang berkhotbah di gereja-gereja besar (mega church) memahami kondisi orang-orang yang ingin melarikan diri dari kemiskinan dan yang merasa bahwa hidup mereka seperti ember pecah.

- Newsletter -

“Apa yang mereka inginkan adalah jaminan, bahwa jika mereka berdoa, dan percaya, dan hidup dengan saleh, mereka akan diberi penghiburan,” kata kardinal itu.

Presiden Federasi Konferensi Waligereja Asia itu memperingatkan agar tidak ada ajaran yang “mengemas” Injil “sebagai janji kesuksesan yang manis.”

Dia mengatakan “injil kemakmuran” adalah produk “mimpi kaum kapitalis Amerika” yang mengajarkan kenikmatan manfaat materi dan memandang kemiskinan sebagai “kutukan dan kurangnya berkat dari Tuhan.”

“Injil kemakmuran mendorong orang – terutama para pemimpin dan pengkhotbahnya – untuk bersenang-senang dengan jet pribadi dan rumah jutaan dolar sebagai bukti kasih Allah,” kata kardinal.

Dia menunjukkan bahwa “pendeta besar” menargetkan orang Kristen yang kaya dan menolak untuk melihat “akar penyebab penderitaan manusia” dan “penyebab struktural kemiskinan.”

Kardinal Bo berkata bahwa pemberitaan “injil kemakmuran” adalah “dosa melawan Roh Kudus” karena segera setelah Roh Kudus turun ke atas Maria, Magnifikat Maria menjadi ringkasan dari mandat Roh Kudus.

“Dia telah menurunkan para penguasa dari tahta mereka namun telah mengangkat yang hina dina. Dia telah membuat yang lapar kenyang dengan hal-hal yang baik tetapi menyuruh orang kaya pergi dengan tangan kosong,” kata kardinal.

Kardinal itu mengatakan “injil kemakmuran” juga bertentangan dengan Paus Fransiskus yang menekankan agama Kristen sebagai agama yang harus “peduli pada ketidakadilan dalam distribusi kekayaan dan mengangkat orang miskin.”

Injil kemakmuran, yang juga dikenal sebagai “teologi kemakmuran” berasal dari tradisi okultisme Amerika yang disebut “Pemikiran Baru.”

“Injil Kemakmuran” adalah istilah umum atas sekelompok gagasan – yang populer di kalangan pengkhotbah karismatik dalam tradisi evangelikal – yang menyamakan iman Kristen dengan keberhasilan materi dan finansial.

Gagasan itu mendapat dorongan di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang telah memasukkan televangelis timnya, Paula White, seorang promotor kepercayaan itu.

Namun Kardinal Bo, mengecam para pengkhotbah yang dia gambarkan sebagai “nabi palsu … yang sengaja menyesatkan umat beriman yang mudah tertipu.”

Kardinal itu memperingatkan orang-orang yang mengaku sebagai “nabi yang memiliki hotline ke surga dan mengobral ramalan palsu yang diklaim atas desakan Roh Kudus.”

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai aliran “teologi kemakmuran” tumbuh di beberapa negara Asia di mana agama Kristen menyebar jauh lebih cepat daripada di bagian lain dunia.

Singapura, misalnya, menjadi rumah bagi beberapa gereja kemakmuran besar, termasuk Gereja Penciptaan Baru yang memiliki 30,000 anggota yang dipimpin oleh pendeta karismatik Joseph Prince.

Dalam pesannya pada hari Pentakosta Minggu, Paus Fransiskus mengingatkan umat beriman untuk bekerja demi keadilan sosial di tengah tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi virus corona.

Paus mengatakan Gereja harus bersama orang miskin karena dunia akan menghadapi era pasca-pandemi.

“Segala penderitaan akan sia-sia jika kita tidak membangun bersama masyarakat yang lebih adil, yang lebih Kristen, bukan dalam nama, tetapi dalam kenyataannya, kenyataan yang menuntun kita pada perilaku Kristen,” katanya.

Marielle Lucenio turut melaporkan. 

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest