Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Vatikan terbitkan katekese baru terkait bioetika, hukuman mati, lingkungan hidup

Vatikan terbitkan katekese baru terkait bioetika, hukuman mati, lingkungan hidup

Vatikan menerbitkan sebuah direktori katekese Katolik baru pada 25 Juni yang bertujuan untuk memandu upaya pewartaan Gereja, terutama pada isu-isu kontemporer.

“Direktori untuk Katekese” yang diperbarui dan direstui oleh Paus Fransiskus pada bulan Maret, merupakan lanjutan dari “Direktori Kateketik Umum” tahun 1971 dan “Direktori Umum untuk Katekese” tahun 1997.

“Direktori itu menawarkan prinsip-prinsip teologis-pastoral yang mendasar dan beberapa arahan umum yang relevan untuk katekese bagi zaman kita,” kata Uskup Agung Rino Fisichella dalam pengantar.




Dewan Kepausan untuk Evangelisasi Baru, yang dipimpin oleh Uskup Agung Fisichella, bertanggung jawab atas persiapan dokumen setebal 300 halaman itu.

Direktori baru ini bertujuan untuk membimbing para uskup, imam, religius, dan umat Katolik awam yang terlibat dalam pengajaran iman Katolik kepada umat beriman.

Dokumen tersebut berisi elemen-elemen mendasar untik disoroti oleh para katekis dalam pengajaran mereka, termasuk bahwa “Tuhan adalah awal dan akhir dari kehidupan, dari saat konsepsi hingga kematian alami.”

“Manusia selalu menjadi kesatuan roh dan tubuh; ilmu pengetahuan ada untuk melayani manusia; kehidupan harus diterima dalam kondisi apa pun, karena itu ditebus oleh misteri paskah Yesus Kristus, ”tambahnya.

 Patung Ratu Damai di depan Katedral St. Yosef, Hanoi, Vietnam. (Foto shutterstock.com)
- Newsletter -

Mengatasi masalah kontemporer

Terkait masalah-masalah kontemporer, direktori itu mencatat bahwa katekis harus memajukan pendidikan yang berakar pada iman dan moralitas Kristen dalam terang ajaran Gereja.

Terkait bioetika, direktori itu menekankan perbedaan antara “intervensi terapeutik dan manipulasi,” terutama ketika itu mengarah pada risiko pelaksanaan eugenika (rekayasa).

Dokumen itu juga menegaskan penciptaan Allah atas pribadi manusia sebagai “pria dan wanita.”

Direktori itu mencatat bahwa meskipun Gereja menyadari kompleksitas pribadi yang dialami beberapa orang dalam bidang gender dan seksualitas, “gereja sadar bahwa dalam perspektif iman, seksualitas bukan hanya data fisik, tetapi juga realitas pribadi, nilai-nilai yang dipercayakan pada tanggung jawab orang tersebut.”

Terkait hukuman mati, direktori tersebut menekankan “martabat intrinsik dan tidak dapat dicabut” dari setiap pribadi manusia.

Pada perawatan rumah bersama (bumi), dokumen itu menekankan perlunya “konversi ekologis” dalam menghadapi masalah ekologis yang semakin cepat dan kompleks.

“Sebuah katekese yang peka terhadap perlindungan ciptaan mendorong budaya untuk memberikan perhatian baik kepada lingkungan maupun kepada orang-orang yang tinggal di sana,” katanya.




Dokument itu menambahkan bahwa bagian dari tanggung jawab lingkungan adalah tanggung jawab dan rasa hormat terhadap orang lain dengan menjalani kehidupan yang bebas dari konsumerisme.

Selain itu dokumen tersebut juga membahas tantangan baru dari budaya digital dan budaya globalisasi, dan mengatakan perlunya pelatihan di bidang-bidang ini karena “mereka saling menentukan satu sama lain dan menghasilkan fenomena yang menyoroti perubahan radikal dalam keberadaan manusia.”

“Karenanya, katekese harus melakukan segala upaya untuk membuat ajaran Gereja dipahami dan membantu menciptakan budaya baru,” ungkap dokumen itu.

Disebutkan bahwa setiap orang yang dibaptis adalah misionaris yang dipanggil untuk menemukan cara-cara baru untuk mengomunikasikan iman dengan komitmen dan tanggung jawab.

Direktori setebal 300 halaman itu dibagi menjadi tiga bagian dibagi dengan 12 bab.

Katekis harus dibina

Bagian pertama berjudul “Katekese dalam misi evangelisasi Gereja” berbicara tentang pembinaan, bahwa katekis harus “terlebih dahulu dikatekisasi sebelum menjadi katekis.” Pedoman itu mengatakan katekis harus waspada dalam melakukan tugas khusus mereka “sehingga perlindungan mutlak dijamin untuk setiap orang, terutama untuk anak di bawah umur dan orang yang rentan.”

Proses katekese, yang merupakan bagian kedua dari direktori, menggarisbawahi pentingnya “model komunikasi yang mendalam dan efektif ” dalam berkatekese.

Hal ini mengusulkan penggunaan seni melalui kontemplasi keindahan sebagai sarana untuk berhubungan dengan Tuhan dan musik suci sebagai cara menanamkan keinginan akan Tuhan dalam hati manusia

Minggu pagi di Basilika Hati Kudus Yesus di Puducherry, Tamil Nadu, India pada 5 November 2017. (Foto shutterstock.com)

Pedoman itu juga menekankan peran keluarga, di mana orang menerima pendidikan Kristen dengan cara yang rendah hati dan penuh kasih sayang.

Dokumen itu mengatakan orang Kristen dipanggil untuk mendampingi orang lain dengan “kedekatan, mendengarkan, dan pengertian untuk dapat mengembalikan harapan dan kepercayaan.”

Selain itu, direktori ini juga menyoroti pentingnya “menyambut dan mengenali” mereka yang memiliki kemampuan berbeda, mengakui mereka sebagai “saksi kebenaran hakiki atas kehidupan manusia” dan harus disambut sebagai “hadiah besar.”

Katekese juga harus fokus pada penerimaan, kepercayaan, dan solidaritas bagi para migran, yang karena jauh dari tanah air mereka, mungkin mengalami krisis iman.

Para migran harus didukung dalam melawan prasangka dan bahaya serius yang mungkin mereka hadapi, seperti perdagangan manusia, tambah dokumen itu.




Memihak orang miskin

Direktori itu mengatakan bahwa umat beriman harus memahami “kemiskinan menurut injil” dan mendorong budaya persaudaraan dan menumbuhkan kemarahan terhadap penderitaan dan ketidakadilan yang diderita oleh orang miskin.

Dokumen itu meminta agar pelayanan penjara diperhatikan, dan menggambarkan penjara sebagai “tanah misi otentik.”

Bagian ketiga dari direktori, “Katekese pada Gereja-Gereja Tertentu,” didedikasikan untuk katekese di paroki, gerakan gerejawi, dan asosiasi Gereja lainnya.

Paroki disorot sebagai “contoh kerasulan komunitas,” yang seharusnya memberikan katekese kreatif yang disesuaikan dengan pengalaman hidup manusia.

Asosiasi Gereja lainnya juga diakui memiliki “kapasitas penginjilan yang hebat” yang menambah kekayaan Gereja.

Uskup Joseph Prathan Sridarunsil pada upacara Krisma di Gereja Katolik St. Theresa di kota Hua Hin, Thailand, 10 November 2018. (Foto shutterstock.com)

Untuk sekolah-sekolah Katolik, direktori ini mengusulkan gerakan dari menjadi “lembaga skolastik” menjadi “komunitas skolastik” dengan forkus pada pendidikan berdasarkan nilai-nilai Injil.

Dokumen ini mencatat bahwa mengajar agama berbeda dari katekese, meskipun saling melengkapi, dan menambahkan bahwa “faktor agama adalah dimensi eksistensial yang tidak boleh diabaikan.”

Direktori tersebut menegaskan bahwa “adalah hak orang tua dan siswa” untuk menerima formasi integral dengan mempertimbangkan pengajaran agama.

Ekumenisme dan dialog antar-agama dengan Yudaisme dan Islam dianggap sebagai bidang khusus untuk katekese.

Katekese harus “mendorong keinginan untuk bersatu” agar dapat menjadi instrumen evangelisasi yang sejati.

Hal ini mendesak dialog yang memerangi anti-Semitisme dan mempromosikan perdamaian dan keadilan dengan agama Yahudi.

Direktori tersebut menyerukan katekese yang dapat “memperdalam dan memperkuat identitas umat beriman” dan mendorong jiwa misionaris mereka melalui kesaksian hidup dan dialog “ramah dan jujur”.

Uskup Agung Fisichella mengatakan tujuan penulisan direktori baru tersebut adalah untuk memperdalam pemahaman Gereja tentang peran katekese dalam bidang evangelisasi.

Katekese perlu mengambil karakteristik evangelisasi, tetapi tanpa menggantinya, kata uskup agung pada konferensi pers pada 25 Juni.

“Dalam hubungan ini, yang tertinggi adalah evangelisasi bukan katekese,” katanya.

Pendahuluan direktori itu menyatakan bahwa setiap direktori sejalan dengan ajaran Gereja, terutama dokumen Vatikan II, Katekismus Gereja Katolik, ensiklik kepausan, dan sinode para uskup.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest