Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Mantan pejabat FABC, Pastor Raymond Ambroise, meninggal

Mantan pejabat FABC, Pastor Raymond Ambroise, meninggal

Pastor Raymond Ambroise, mantan sekretaris eksekutif Kantor Komunikasi Sosial Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC), meninggal karena serangan jantung di India pada 7 Juli.

Dia meninggal pada usia 75 tahun.

Pastor Ambroise memimpin kantor media FABC dari 2010 hingga 2019 setelah menjabat sebagai konsultan Radio Veritas Asia dari 2003 hingga 2009.

“Atas nama FABC, saya menyatakan duka cita kami atas kematian mendadak Pastor Ambroise,” bunyi pernyataan dari Kardinal Charles Maung Bo dari Yangon, presiden FABC.




Dia menggambarkan imam itu sebagai “seorang misionaris yang pendiam dan tenang… dengan cinta yang mendalam kepada Gereja.”

“Dia mencurahkan seluruh energinya untuk melayani Tuhan,” kata kardinal itu dan menambahkan bahwa almarhum adalah seorang “perintis dan pembuka jalan di bidang komunikasi sosial, pengembangan sosial, program pendidikan inovatif, dan berbagai bentuk pelayanan pastoral lainnya.”

“Seorang administrator yang handal dan perencana yang teliti, dia tenang, tidak tergesa-gesa, lembut dan terutama sangat spiritual dalam semua yang dia lakukan,” kata Kardinal Bo mengenang imam India itu.

- Newsletter -

Kardinal itu mengatakan bahwa Pastor Ambroise akan dikenang oleh mereka yang bekerja dengannya untuk menjalani kehidupan yang sangat hemat dan tegas bahkan ketika dia menangani dana dan proyek untuk Gereja di Asia.

Wawasan mendalam dan pemikiran progresif dari imam itu berperan dalam memigrasi Radio Veritas Asia yang berusia 50 tahun ke layanan online dalam 22 bahasa.

“Dia membimbing proses transisi dengan cermat,” kata Kardinal Bo. “Dia adalah seorang visioner dan upayanya telah membuahkan banyak hasil,” tambah kardinal.

Selain karyanya dalam media, Pastor Ambroise juga berperan dalam mendirikan Layanan Sosial Andhra Pradesh di India, yang telah membantu keluarga miskin dengan mata pencaharian yang berkelanjutan dan proyek pembangunan ekonomi.

“Dia tidak pernah pensiun dari pekerjaan apa pun,” kata Kardinal Bo. “Dia selalu siap untuk memberikan layanan apa pun dengan komitmen penuh.”

Pastor Ambroise meninggal di Rumah Penyandang Cacat di India di mana ia tinggal bersama ratusan orang tunawisma yang ia bantu dengan berbagai proyeknya.

Dalam sebuah surat kepada Kardinal Bo setelah menyelesaikan tugasnya dengan FABC pada Maret tahun lalu, Pastor Ambroise mengatakan dia akan kembali ke India untuk melanjutkan tugasnya untuk menyediakan “rumah” alternatif bagi lebih dari 420 orang yang tidak memiliki rumah sendiri.

“Selama bertahun-tahun, imam India itu bekerja dengan orang-orang yang secara fisik dan mental ditantang dan dengan wanita-wanita pedesaan yang tidak memiliki tanah di lebih dari 2.000 desa.

Dalam beberapa dialog dengan reporter, Pastor Ambroise berbagi impiannya untuk memberdayakan orang miskin, terutama mereka yang “ditinggalkan dan dilupakan oleh masyarakat.”

Sekembalinya di India, ia melanjutkan pekerjaannya sebagai manajer percetakan pers multi-warna yang dimiliki oleh Dewan Uskup Katolik Telugu “untuk memperkaya literatur Katolik Telugu.”

“Seperti Maria, hatiku bersukacita dan menyanyikan lagu syukur Maria,” katanya.

Dalam suratnya kepada Kardinal Bo, imam itu mengatakan dia akan kembali ke India dengan hati gembira berkat apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidupnya.

Dia mengatakan dia sangat berterima kasih untuk “sembilan setengah tahun terakhir di bidang komunikasi sosial” terutama dengan karyanya di Radio Veritas Asia.

Pastor Ambroise mengatakan bahwa pekerjaannya dengan jaringan media itu membuat hatinya penuh dengan “rasa syukur kepada Tuhan” karena telah memenuhi keinginannya untuk menjadi seorang misionaris dalam hidupnya untuk membawa Yesus kepada jutaan orang Asia di seluruh dunia.

Dia meninggalkan pekerjaannya bersama FABC dan Radio Veritas Asia “dengan rasa terima kasih atas komitmen yang memberi saya rasa kepuasan dalam menghadapi semua tantangan.”

Dia menggambarkan karyanya dalam bidang media “tidak hanya untuk mengikuti apa yang dilakukan pada masa lalu tetapi untuk mengangkatnya menuju ketinggian baru.”

Imam itu bangga akan perannya dalam “digitalisasi” Radio Veritas Asia ke platform media baru, termasuk jaringan media sosial.

“Seperti yang selalu saya akui, saya menganggap [pekerjaan saya di Radio Veritas Asia dan FABC] sebagai rencana Tuhan untuk menggunakan saya terlepas dari kekurangan saya,” katanya.

“[Karena] saya melayani Tuhan dan Dialah yang memilih saya, saya yakin bahwa Dia akan melengkapi dan memberdayakan saya untuk mencapai rencana-Nya untuk semua tugas saya,” katanya.

“Dalam semua ini saya harus menjadi alat di tangan-Nya. Saya berterima kasih kepada Tuhan atas berbagai cara yang digunakanNya untuk menemani saya memenuhi tugas saya, ”katanya.

Di India, Pastor Ambroise berperan penting dalam produksi beberapa film, termasuk “Dayasagar” (Ocean of Mercy) dalam bahasa Hindi, “Karunamayudu” dalam bahasa Tamil, “Karunamurthi” juga dalam bahasa Tamil, dan serial televisi “Dayasagar” dalam bahasa Telugu.

Pastor Ambroise adalah saudara kandung Uskup Yvon Ambroise, ketua Kantor Pembangunan Manusia FABC.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest