Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Features (Bahasa) Serangan terhadap wanita Kristen, bentuk baru persekusi di India

Serangan terhadap wanita Kristen, bentuk baru persekusi di India

Terbaring lemah di ranjang tua di bangsal rumah sakit yang sangat padat, Sushma Devi yang berusia 43 tahun berdoa sambil mencoba melupakan rasa sakit akibat luka di kepalanya.

Seminggu yang lalu, Devi dan tiga wanita Kristen lainnya diserang oleh gerombolan garis keras Hindu di desanya dekat kota Faridabad, India utara.

“Beberapa orang tak dikenal menyiram pintu utama rumah kami dengan air yang sudah terkontaminasi,” katanya kepada LiCAS.news.

“Ketika kami melarang, mereka mulai melontarkan kata-kata pelecehan dan bahkan mencoba menyerang saya, jadi saya pergi ke kantor polisi untuk melapor,” kata ibu dari seorang anak berusia 6 bulan.




Devi mengatakan polisi meyakinkannya bahwa mereka akan menindak mereka yang membuat masalah dan dia disuruh pulang.

“Saya melakukan sesuai yang diminta polisi. Saya pulang ke rumah dengan harapan tidak ada yang akan mengganggu kami lagi, ”kata Devi.

Tapi besoknya, massa menyerang rumahnya dan menyeret Devi keluar. Ketika orang Kristen lain yang tinggal di dekatnya mencoba untuk membantu, mereka juga diserang.

- Newsletter -

“Mereka mulai memukuli kami, mendorong dan menyeret kami ke jalan. Ada tiga wanita Kristen lainnya yang merupakan tetangga saya yang juga diserang,” kata Devi.

“Para penyerang terus mengatakan kepada kami bahwa kami orang Kristen tidak akan diizinkan untuk tinggal di sini dan bahwa membunuh kami adalah satu-satunya solusinya,” katanya.

Sebuah batu dilemparkan tepat mengenai kepalanya dan dia kemudian tidak sadarkan diri.

“Sudah seminggu sejak kejadian itu dan saya terkadang masih pingsan. Ada empat jahitan di kepala saya,” kata Devi.

Sushma Devi berbaring di ranjang rumah sakit setelah dipukuli dan kepalanya terkena lemparan batu. (Foto disediakan)

Tiga wanita lainnya juga dipukuli hingga luka parah, katanya, menambahkan bahwa mereka menderita luka di kaki, dahi dan kepala.

Rajesh Gupta, seorang pendeta Protestan, mencoba untuk membantu mereka dalam serangan itu tetapi dia dan keluarganya akhirnya diserang juga.

“Saya bersama istri dan putri saya. Kami semua dipukuli dan dianiaya,” kata Guptor.

“Massa terus mengatakan bahwa kami orang Kristen telah mencemari masyarakat Hindu dan kami diberitahu bahwa waktunya telah tiba bagi kami untuk menghadapi hukuman,” katanya.

Di desanya, kata Devi, ada beberapa rumah orang Kristen yang letaknya berdekatan.

“Beberapa umat Hindu di desa telah menyimpan dendam pribadi terhadap kami selama bertahun-tahun,” kata Devi. “Mereka sengaja mengundang kami untuk menghadiri pertemuan doa Hindu di kuil-kuil setempat dan ketika kami tidak hadir, mereka menjadikan kami sasaran dengan berbagai cara,” katanya.

“Baru-baru ini, ‘puja’ (doa umat Hindu) diadakan di desa. Kami tidak menghadirinya. Segera setelah itu, beberapa orang Hindu fanatik memperingatkan kami tentang konsekuensi yang mengerikan,” katanya.

Aktivis Kristen Joshua Lal, yang bekerja di desa Devi, mengatakan kepada LiCAS.news bahwa beberapa kelompok Hindu garis keras di desa tersebut telah membuat berbagai alasan untuk menargetkan orang Kristen.




“Tingkat keparahan masalah bisa diukur dengan fakta bahwa ada mekanisme terencana oleh kelompok-kelompok ini di mana mereka sekarang mulai menargetkan perempuan Kristen,” kata Lal.

Shibu Thomas, pendiri Persecution Relief, sebuah kelompok hak-hak Kristen, mengatakan bahwa di tengah meningkatnya serangan anti-Kristen oleh kelompok fanatik, wanita telah menjadi sasaran khusus.

Thomas mengatakan bahwa dalam tujuh bulan pertama tahun ini tercatat lebih dari 51 kasus kejahatan rasial terhadap wanita Kristen.

“Lima wanita Kristen telah diperkosa tahun ini dan ada banyak serangan terhadap mereka yang seringkali tidak tercatat. Ini adalah tren baru untuk mengucilkan komunitas Kristen dan menanamkan ketakutan pada umumnya, ”kata Thomas kepada LiCAS.news.

Allen Francis, seorang aktivis Kristen mengatakan kepada LiCAS.news bahwa laporan terbaru dari Open Doors  menyatakan bahwa penganiayaan, pemerkosaan, kekerasan fisik terhadap gadis dan wanita Kristen telah menjadi bentuk penganiayaan baru di India.

Francis mengatakan pendekatan polisi masih bias, dan mendukung mayoritas dalam hal terkait kekerasan terhadap minoritas.

Hindu mencakup 80 persen dari 1,3 miliar populasi India. Sedangkan Muslim mencakup 14 persen dari populasi, sementara Kristen terdiri dari 2,3 persen.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest