Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Poin penting yang disampaikan Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli tutti

Poin penting yang disampaikan Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli tutti

Paus Fransiskus menyerukan ‘jenis politik yang lebih baik dan ‘dunia yang lebih terbuka’ dalam ensiklik barunya yang berjudul Fratelli tutti yang diteken pada hari Minggu, 4 Oktober, bertepatan dengan pesta Santo Fransiskus dari Assisi.

Fratelli tutti atau Saudara semua diambil dari peringatan keenam dari 28 aturan yang dikeluarkan oleh Santo Fransiskus dari Assisi untuk diikuti oleh saudara-saudaranya.

Paus Fransiskus mengatakan, kata-kata ini menawarkan kepada para pengikut santo itu “sebuah cara hidup yang ditandai dengan cita rasa Injil.”

Dokumen 45.000 kata yang berisi delapan bab itu merupakan ensiklik Paus Fransiskus terpanjang sejak ia menjadi pemimpin Gereja Katolik pada 2013.




Paus mengungkapkan harapan bahwa dokumen yang mengusulkan dunia persaudaraan yang ideal, akan mendorong “kelahiran kembali aspirasi universal” menuju “persaudaraan dan persahabatan sosial.”

Paus Fransiskus menandatangani ensiklik baru itu di kota Assisi pada 3 Oktober, pada malam pesta Santo Fransiskus.

Ensiklik kepausan termasuk dalam kategori khusus dokumen kepausan, semacam surat tentang doktrin Katolik, yang dikirim oleh paus dan biasanya ditujukan khusus kepada para pemimpin gereja.

- Newsletter -

Dokumen-dokumen ini biasanya ditulis dalam bahasa Latin dan, seperti semua dokumen kepausan, judul ensiklik biasanya diambil dari kata pembukaannya.

Sebuah ensiklik umumnya digunakan untuk isu-isu penting dan menempati urutan kedua setelah Konstitusi Apostolik dari paus, sebuah bentuk undang-undang paling kidmat yang dikeluarkan oleh paus.

Cinta yang melampaui batas

Paus Fransiskus membuka Fratelli tutti dengan menyerukan “untuk cinta yang melampaui batasan geografis dan jarak.”

Ia mencatat bahwa Santo Fransiskus selalu “menabur benih perdamaian” dan menemani “saudara dan saudari yang paling hina” kemanapun ia pergi selama hidupnya.

Santo Fransiskus tidak “mengobarkan perang kata-kata yang bertujuan untuk memaksakan doktrin,” tulis Paus Fransiskus, tetapi “hanya menyebarkan kasih Tuhan.”

Ensiklik baru ini mengacu pada ajaran-ajaran Gereja sebelumnya dan juga dari tulisan-tulisan St. Thomas Aquinas, seorang Doktor Gereja.

Ia juga mengutip “Dokumen Persaudaraan Manusia” yang ditandatangani Paus Fransiskus dengan Imam Besar Universitas Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb, di Abu Dhabi pada tahun 2019.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa ensiklik itu mengangkat dan mengembangkan beberapa tema besar yang diangkat dalam dokumen itu.

Dia mengatakan dia juga memasukkan “surat, dokumen dan pertimbangan … dari banyak individu dan kelompok di seluruh dunia.”

Paus mengatakan dia tidak bermaksud menjadikan dokumen itu sebagai “ajaran lengkap tentang cinta persaudaraan” melainkan untuk membantu “visi baru persaudaraan dan persahabatan sosial yang tidak akan tinggal pada tingkat kata-kata.”

Dalam pengantarnya, paus menulis bahwa pandemi virus corona, yang “meletus secara tak terduga” saat ia menulis ensiklik itu, menggarisbawahi “fragmentasi” dan “ketidakmampuan” negara-negara untuk bekerja sama.

Dia mengatakan “Fratelli tutti” bertujuan untuk berkontribusi pada kelahiran kembali aspirasi universal untuk persaudaraan serta persaudaraan sejati antara semua pria dan wanita.

Paus Fransiskus menandatangani ensiklik ‘Fratelli tutti’ di kota Assisi pada tanggal 3 Oktober, malam pesta Santo Fransiskus. (Foto dari Vatican News)

Awan gelap di atas dunia yang tertutup

Bab Satu dari dokumen itu berjudul “Awan Gelap di Atas Dunia Tertutup” menyoroti munculnya “nasionalisme yang buta ekstrem, penuh kebencian, dan agresif ” di beberapa negara, dan ‘bentuk baru keegoisan dan hilangnya kesadaran sosial.”

Bab ini juga mencatat bahwa manusia menjadi semakin sendirian dari sebelumnya di dunia “konsumerisme tanpa batas” dan “individualisme kosong” di mana “rasa sejarah yang semakin hilang” dan “adanya dekonstruksionisme.”

Paus Fransiskus menulis tentang “hiperbola, ekstremisme, dan polarisasi” yang telah menjadi alat politik di banyak negara.

Dia menggambarkannya sebagai “kehidupan politik” tanpa “debat yang sehat” dan “rencana jangka panjang” melainkan “teknik pemasaran licik yang bertujuan mendiskreditkan orang lain.”

“Kita tumbuh semakin jauh dari satu sama lain,” katanya, menambahkan bahwa suara-suara yang diangkat untuk membela lingkungan dibungkam dan diejek.

Paus mengulangi keprihatinannya atas ‘masyarakat yang terbuang” di mana bayi yang belum lahir dan orang lanjut usia tidak lagi dibutuhkan serta jenis pemborosan lainnya yang berkembang biak dengan sangat menyedihkan.

Bab ini juga membahas ketidaksetaraan ekonomi dan seruan agar perempuan memiliki “martabat dan hak yang sama dengan laki-laki.”

Bagian ini menyoroti momok perdagangan manusia, “perang, serangan teroris, penganiayaan rasial atau agama.”

Paus mengatakan situasi kekerasan saat ini ‘sedikit demi sedikit’ membentuk perang dunia ketiga.

Dia memperingatkan adanya “godaan untuk budaya membangun tembok” dan rasa memiliki sebagai “satu keluarga manusia yang memudar.”

Dokumen tersebut memperingatkan bahwa pencarian keadilan dan perdamaian “tampaknya menjadi utopia yang ketinggalan jaman,” yang diganti dengan “ketidakpedulian global”.

Paus Fransiskus mencatat bahwa pandemi virus corona memaksa orang untuk memulihkan kekhawatiran satu sama lain, tetapi dia memperingatkan bahwa konsumerisme individu dapat “dengan cepat merosot menjadi bebas bagi semua” yang akan menjadi “lebih buruk daripada pandemi apa pun.”

Paus mengkritik “rezim politik populis tertentu” yang mencegah migran masuk dengan segala cara, dan menyebabkan mentalitas xenofobia.

Ia juga menyoroti pengawasan terus-menerus, kampanye kebencian dan kehancuran, dan hubungan digital, dan mengatakan bahwa itu semua “tidak cukup untuk membangun jembatan” dan bahwa teknologi digital sedang menyingkirkan orang dari kenyataan.

Membangun persaudaraan, kata paus, bergantung pada “pertemuan otentik”.




Teladan Orang Samaria yang Baik Hati

Dalam Bab Dua, berjudul Orang Asing di Jalan, paus mengutip perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati saat ia menyerukan kepada setiap orang untuk menjadi “tetangga” bagi orang lain dan mengatasi prasangka, kepentingan pribadi, hambatan sejarah dan budaya.

Ensiklik tersebut mengkritik mereka yang percaya bahwa menyembah Tuhan sudah cukup dan yang menganggap tidak perlu melakukan apa yang dituntut oleh imannya dari mereka, dan dia menyoroti juga  orang-orang yang memanipulasi dan menipu masyarakat dan hidup bermewah-mewah.

Paus Fransiskus menekankan pentingnya mengenal Kristus dalam diri mereka yang ditinggalkan atau dikucilkan. Ia mengatakan “kadang-kadang bertanya-tanya mengapa butuh waktu lama bagi Gereja untuk dengan tegas mengutuk perbudakan dan berbagai bentuk kekerasan.”

Dalam Bab Tiga, “Membayangkan dan melahirkan dunia terbuka” Paus Fransiskus menulis tentang “keluar dari diri” untuk menemukan keberadaan yang lebih penuh di dalam orang lain.

Dia berbicara menentang rasisme sebagai “virus yang bermutasi dengan cepat, yang bukannya menghilang, malah bersembunyi dan terus menunggu.”

Ia juga meminta perhatian pada para penyandang disabilitas yang merasa seperti “orang buangan yang tersembunyi” di masyarakat.

Paus mengatakan dia tidak mengusulkan model globalisasi “satu dimensi” yang berusaha menghilangkan perbedaan, tetapi menganjurkan bahwa keluarga manusia harus belajar untuk “hidup bersama dalam harmoni dan damai.”

Dia menambahkan bahwa kesetaraan tidak dicapai dengan “pengakuan abstrak” bahwa semua adalah sama tetapi merupakan hasil dari “pembinaan persaudaraan secara sadar dan hati-hati.”

Paus Fransiskus membedakan antara mereka yang lahir dalam keluarga yang stabil secara ekonomi yang hanya menuntut kebebasan mereka dan mereka yang lahir dalam kemiskinan yang tidak memiliki apa-apa.

Dia mengatakan bahwa “hak asasi tidak memiliki batas,” dan menyerukan etika dalam hubungan internasional, dan menarik perhatian pada beban hutang negara-negara miskin.

Ensiklik tersebut menegaskan bahwa “pesta persaudaraan universal” hanya akan bisa dirayakan ketika sistem sosial-ekonomi tidak lagi menghasilkan “korban tunggal” atau mengesampingkan mereka, dan ketika semua “kebutuhan dasar” terpenuhi, yang memungkinkan mereka untuk memberikan yang terbaik dari diri mereka sendiri.

Paus menekankan pentingnya solidaritas dan mengatakan perbedaan warna, agama, bakat, dan tempat lahir “tidak dapat digunakan untuk membenarkan hak istimewa beberapa orang atas yang lain”.

Dia mengatakan “hak atas milik pribadi” harus disertai dengan prinsip “subordinasi semua milik pribadi pada tujuan universal barang-barang di bumi, dan dengan demikian semua orang berhak menggunakannya.”

Barang-barang milik pengungsi Rohingya berserakan di pantai saat kapal pengangkut mereka berlabuh dekat  Teknaf pada 16 April 2020. Tiga puluh dua warga Rohingya tewas di kapal pukat yang penuh sesak dan terdampar di Teluk Benggala selama hampir dua bulan, kata para pejabat pada 16 April setelah ratusan orang yang menderita kelaparan diselamatkan dari kapal. (Foto oleh Suzauddin RUBEL / AFP)

Hati yang terbuka untuk dunia

Migrasi adalah salah satu tema sentral dari bab keempat yang berjudul “Hati yang terbuka untuk seluruh dunia.”

Paus Fransiskus menyerukan konsep “kewarganegaraan penuh” yang menolak penggunaan istilah minoritas secara diskriminatif. Ia mengatakan  “orang lain yang berbeda dari kita adalah anugerah.”

Dia menyoroti nasionalisme sempit yang menutup pintu bagi orang lain dengan harapan bisa lebih terlindungi.

Paus mengatakan nasionalisme sempit hanya akan menghasilkan “keyakinan sederhana bahwa orang miskin berbahaya dan tidak berguna … sementara yang berkuasa adalah dermawan yang murah hati.”

Dalam Bab Lima, Paus Fransiskus mengkritik populisme yang mengeksploitasi manusia, mempolarisasi masyarakat yang sudah terpecah, dan mengobarkan keegoisan.

Dia menulis bahwa politik yang lebih baik adalah yang menawarkan dan melindungi pekerjaan, dan mencari peluang untuk semua.“

“Masalah terbesar adalah pekerjaan,” katanya seraya menyerukan diakhirinya perdagangan manusia. Dia juga mengatakan bahwa kelaparan adalah “kriminal” karena mendapatkan makanan adalah “hak yang tidak dapat dicabut”.

Dia menyerukan reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menegaskan penolakan terhadap korupsi, inefisiensi, penggunaan kekuasaan yang jahat dan kurangnya rasa hormat terhadap hukum.

Paus mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa harus “mempromosikan kekuatan hukum daripada hukum kekuatan.”

Ia memperingatkan bahaya spekulasi keuangan yang “terus mendatangkan malapetaka,” serta menambahkan bahwa pandemi telah menunjukkan bahwa “tidak semuanya dapat diselesaikan dengan kebebasan pasar.”

Dia mengatakan martabat manusia harus “kembali menjadi pusat”.

Paus mengatakan “politik yang baik” membangun komunitas dan mendengarkan semua pendapat.

Dia mengatakan ini bukan tentang “berapa banyak orang yang mendukung saya?” atau “berapa banyak yang memilih saya?” tetapi pertanyaan seperti “seberapa besar cinta yang saya berikan pada pekerjaan saya?” dan “ikatan nyata apa yang saya buat?”

Para uskup Katolik dari berbagai keuskupan di Filipina mengadakan dialog dengan para pemimpin suku di wilayah Caraga di Filipina selatan pada 3 Maret (Foto oleh Erwin Mascarinas)

Pentingnya dialog

Mengakhiri ensikliknya, Paus Fransiskus menekankan pentingnya dialog dan persahabatan.

Bab Enam, berjudul “Dialog dan persahabatan dalam masyarakat” membahas tentang “keajaiban dari kebaikan”, “dialog sejati”, dan “seni perjumpaan.”

Paus mengatakan bahwa tanpa prinsip universal dan norma moral yang melarang kejahatan intrinsik, hukum hanya menjadi pemaksaan yang semena-mena.

Dalam Bab Tujuh, yang berjudul “Jalan pertemuan yang diperbarui” paus menekankan ketergantungan perdamaian pada kebenaran, keadilan dan belas kasihan.

Dia mengatakan membangun perdamaian adalah “tugas yang tidak pernah berakhir” dan bahwa mencintai penindas berarti membantunya untuk berubah dan tidak membiarkan penindasan berlanjut.

Paus menekankan bahwa pengampunan tidak berarti impunitas tetapi menyangkal kekuatan jahat yang merusak dan keinginan untuk membalas dendam.

Dia juga memperingatkan bahwa perang tidak dapat dilihat sebagai solusi karena risikonya lebih besar ketimbang manfaat yang ingin dicapai.

Ensiklik itu juga menegaskan kembali ajaran Gereja Katolik tentang hukuman mati, menyebutnya sebagai seuatu yang “tidak dapat diterima.”

“Tidak ada langkah mundur dari posisi ini,” tulis Paus.

Dia mengatakan “ketakutan dan kebencian” dapat dengan mudah menyebabkan hukuman dilihat dengan cara “pendendam dan bahkan kejam” daripada sebagai proses integrasi dan penyembuhan.

Dalam bab terakhir, Paus Fransiskus berbicara tentang agama yang melayani persaudaraan.

Dia mengatakan dialog antaragama adalah cara untuk membawa “persahabatan, perdamaian dan harmoni.”

Pemimpin Gereja Katolik itu mengatakan bahwa akar dari totaliterisme modern adalah “penyangkalan terhadap martabat transenden pribadi manusia”.

Dia mengatakan dialog dalam bentuk apa pun “tidak menurunkan atau menyembunyikan keyakinan kita yang terdalam.”

Paus Fransiskus mengatakan menyembah Tuhan dengan tulus dan rendah hati “tidak akan menghasilkan diskriminasi, kebencian dan kekerasan, tetapi menghormati kesucian hidup.”

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest