Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Pesta Santo Niño, Uskup Manila desak warga Filipina berantas pelecehan anak

Pesta Santo Niño, Uskup Manila desak warga Filipina berantas pelecehan anak

Pada momen pesta Santo Niño (Kanak-kanak Yesus) di Manila, Uskup Broderick Pabillo, administrator apostolik keuskupan agung itu, mendesak umat beriman untuk memerangi pelecehan terhadap anak-anak terutama selama pandemi.

“Jika kita benar-benar berdevosi kepada Santi Niño, kita harus bersatu dalam memerangi eksploitasi anak-anak,” kata prelatus itu dalam Misa di Gereja Santo Niño di distrik Tondo, Manila pada 17 Januari.




“Devosi tidak hanya ditunjukkan dalam doa, tetapi diwujudkan dalam berbagai cara seperti mementingkan anak-anak dan hak-haknya,” kata Uskup Pabillo.

“Kita memang mengasuh anak-anak kita, keponakan, cucu kita, tapi kita bisa saja mengabaikan anak-anak lain,” tambahnya.

Uskup Pabillo mengatakan banyak korban kekerasan, perdagangan manusia, pelecehan seksual, dan seks online terjadi di negara itu. Ia menambahkan bahkan di rumah dan di gereja anak-anak dilecehkan.

“Bahkan di gereja, pelecehan anak terjadi,” katanya. “Itulah mengapa pedofilia di gereja menjadi skandal besar dan kita sangat menyesalinya,” kata Uskup Pabillo.

Ia mengatakan pelecehan seksual yang terjadi dalam keluarga “jauh lebih besar terutama sekarang selama periode pandemi ketika semua orang dikurung di rumah mereka”.

- Newsletter -

Pelecehan terhadap anak-anak selama pandemi

Pada puncak pandemi virus corona tahun lalu, Kongregasi Religius Gembala yang Baik di Filipina menyerukan kewaspadaan terhadap eksploitasi seks online terhadap anak-anak.

Dalam sebuah pernyataan, tarekat religius biarawati itu mengatakan perempuan dan anak-anak menjadi lebih rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi dalam rumah tangga selama lockdown.

Mereka mengatakan bahwa sementara pandemi telah meningkatkan keinginan orang untuk merasa terhubung melalui teknologi, ada yang menggunakan ini untuk merugikan orang lain.

“Orang-orang ini memanfaatkan situasi isolasi fisik mereka untuk mengeksploitasi orang lain, terutama perempuan dan anak-anak yang sangat ingin selamat dari krisis ini,” bunyi pernyataan suster itu.

Para biarawati tersebut memperingatkan bahwa jumlah kasus eksploitasi seks online anak-anak (online sex exploitation of children atau OSEC) yang tidak dilaporkan bahkan sangat menakutkan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh kelompok non-pemerintah International Justice Mission (IJM) mencatat bahwa tingkat prevalensi eksploitasi seksual anak berbasis internet di Filipina naik tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perkiraan jumlah alamat IP di Filipina yang digunakan untuk eksploitasi seksual anak setiap tahun naik menjadi 81.723 pada 2017 dari sekitar 23.333 pada 2014.

Data kasus kolaboratif IJM mengungkapkan bahwa 62 persen kasus-kasus OSEC melibatkan anggota keluarga, kerabat, teman dekat keluarga, atau tetangga, sebagai pelaku.

Perhatian khusus bagi anak-anak

Paus Fransiskus tahun lalu meminta para pemimpin dunia untuk “memperhatikan secara serius” anak-anak yang telah dilanggar hak-hak dasarnya di tengah pandemi virus corona.

“Di berbagai negara, situasi ini berisiko mengarah pada peningkatan pekerja anak, eksploitasi, pelecehan dan kekurangan gizi,” kata paus.

Paus Fransiskus menyampaikan audiensi umum mingguannya dari perpustakaan Istana Apostolik, selama wabah COVID-19 di Vatikan, 13 Januari. (Foto oleh Vatican Media via Reuters)

Di Filipina, 280.000 anak telah menjadi korban perdagangan seks siber antara Maret dan Mei, atau empat kali lipat dari angka tahun lalu, dan menjadikan Filipina sebagai hotspot untuk pornografi anak online.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga mencatat sekitar 12 juta anak perempuan di bawah usia 18 tahun yang menikah setiap tahun.

PBB telah memperingatkan bahwa 13 juta pernikahan anak tambahan akan terjadi dalam dekade mendatang jika dampak ekonomi dan sosial akibat pandemi COVID-19 tidak ditangani dengan benar.

Paus Fransiskus juga mengatakan bahwa kekerasan terhadap anak, termasuk pelecehan anak dan pornografi, telah meningkat secara dramatis.

Kanal bantuan untuk anak-anak di India menerima 92.000 panggilan hanya dalam 11 hari untuk meminta perlindungan dari pelecehan dan kekerasan selama lockdown di negara itu.

Paus Fransiskus meminta pihak berwenang untuk memperhatikan anak-anak, terutama mereka yang secara khusus kehilangan hak untuk hidup dan bersekolah.

Paus mengutip himbauan dari advokat pendidikan Pakistan Malala Yousafzai yang mengatakan bahwa “satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena dapat mengubah dunia.”

Devosi Kanak-kanak Yesus

Devosi kepada Santo Niño, patung kanak-kanak Yesus yang berpakaian sebagai raja, telah menjadi bagian dari kesalehan populer di Filipina selama berabad-abad.

Patung Santo Niño tertua dan terpopuler dapat ditemukan di kota Cebu, Filipina tengah, di mana perayaan termegah yang dijuluki “Sinulog” diadakan setiap tahun.

Setiap bulan Januari, jutaan orang berduyun-duyun ke basilika Santo Nino di Cebu di mana patung kanak-kanak Yesus ditempatkan, sementara prosesi keagamaan dan parade warna-warni diadakan di jalan-jalan kota.

Selama beberapa tahun terakhir, peristiwa tersebut dilaporkan menarik hingga tiga juta orang, sehingga menjadikan Sinulog di Cebu sebagai salah satu acara tahunan terbesar di dunia Katolik.

 Patung Kanak-kanak Yesus mengenakan alat pelindung diri lengkap dengan masker dan pelindung wajah untuk menghormati petugas kesehatan selama pandemi. Ratusan ribu umat Katolik berkumpul di luar gereja Santo Niño di Tondo, Manila, 17 Januari, untuk merayakan pesta Kanak-kanak Yesus. (Foto oleh Jire Carreon)

“Sinulog” atau tarian doa, festival tertua di negeri ini, berasal dari kata Cebuano “sulog” atau arus air.
Sambil menari, para pendevosi melambaikan tangan mereka di udara dan meneriakkan “Viva Senor Santo Nino!” dan “Pit Senyor!” singkatan dari “Sangpit sa Senyor (Terpujilah Raja).”

Patung Santo Niño setinggi 38 sentimeter di Kota Cebu merupakan hadiah dari penjelajah Portugis Ferdinand Magellan kepada ratu pulau itu, Juana, saat ia dibaptis menjadi seorang Katolik pada tahun 1521.

Paus Paulus VI menganugerahkan Penobatan Kanonik untuk patung itu pada 28 April 1965 dan kemudian menaikkan status gerejanya menjadi Basilika Kecil pada 2 Mei 1965 melalui dekrit Kepausan berjudul Cubanula Religionis untuk menandai empat ratus tahun agama Kristen di Kepulauan Filipina.

Patung tersebut direplikasi di berbagai tempat di Filipina dengan nama berbeda dan merupakan salah satu ikon budaya Filipina yang paling dicintai dan dikenali.

Patung Santo Niño de Cebu awalnya diproduksi oleh pengrajin Flandria (Flemish), menurut hagiografi, berdasarkan penglihatan Teresa dari Avila, seorang mistikus abad ke-16.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest