Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Kasus bunuh diri pelajar di Jepang capai rekor tertinggi selama pandemi

Kasus bunuh diri pelajar di Jepang capai rekor tertinggi selama pandemi

Jumlah kasus anak muda yang bunuh diri di Jepang meningkat tajam pada tahun 2020 saat pandemi virus corona memuncak.

Kementerian pendidikan Jepang mengatakan itu merupakan angka tertinggi sejak pencatatan mulai disimpan pada tahun 1980, Kyodo melaporkan.

Kementerian itu mengatakan kasus bunuh diri remaja meningkat 140 dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan dua kali lebih tinggi pada Agustus dengan 64 kasus.




Kasus bunuh diri siswi sekolah menengah sebanyak 138, bertambah 71, sementara di pelajar pria bertambah 21 menjadi 191 orang.

Data itu menyebutkan bahwa dari jumlah tersebut pelajar SMP sebanyak 136 kasus dan siswa SD sebanyak 14 kasus.

Pada tahun 2020, pemerintah Jepang meminta sekolah-sekolah ditutup secara nasional sejak bulan Maret karena pandemi virus corona dan pemberlakuan keadaan darurat membuat banyak sekolah tutup hingga Mei atau Juni.

Kementerian pendidikan mengatakan alasan utama bunuh diri remaja adalah kinerja akademis yang buruk dan ketidakpastian mengenai karir masa depan.

Pastor Marco Villa, sekretaris jenderal Institut Kepausan untuk Karya Misi, mengatakan kepada Asia News bahwa “masalah” bunuh diri telah berkembang di antara anak-anak.

- Newsletter -

“Penyebab utama kematian ini adalah perundungan, yang juga berkembang di kalangan anak-anak peremuan,” kata imam yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di Jepang sebagai misionaris.

“Pembukaan kembali sekolah selalu merupakan momen yang sulit,” katanya. Ia menambahkan bahwa penguncian telah meningkatkan tekanan psikologis akibat perundungan online.

“Sekolah memiliki layanan konseling dan guru yang menangani situasi ini, tetapi anak-anak bergumul dengan perasaan mereka dan merasa sulit untuk menjangkau mereka,” kata Pastor Villa.

Ia mengatakan seringkali “keluarga tidak melihat masalah sampai gejala fisik berkembang.”

Imam itu mengatakan bahwa anak-anak di Jepang “memikul beban berat dalam masyarakat yang daya saingnya sudah sangat tinggi di sekolah.”

“Mereka yang berjuang dengan beban ini merasa putus asa,” tambah Pastor Villa.

Kementerian pendidikan berharap komputer tablet yang rencananya akan didistribusikan kepada siswa SD dan SMP dapat membantu dalam memantau kesehatan mental anak.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest