Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Cegah penyelewengan, Vatikan batasi masa jabatan pemimpin organisasi awam

Cegah penyelewengan, Vatikan batasi masa jabatan pemimpin organisasi awam

Langkah ini bertujuan untuk mendorong pembaruan yang sehat dan mencegah penyelewengan yang mengarah pada pelanggaran dan penyalahgunaan

Vatikan telah mengeluarkan dekrit yang mengatur masa jabatan para pemimpin kelompok Gereja dan gerakan awam internasional untuk memastikan bahwa tidak akan ada pelanggaran.

Dikasteri untuk Awam, Keluarga dan Kehidupan mengeluarkan dekrit umum pada 11 Juni untuk mendorong pergantian kepemimpinan yang sehat pada lembaga-lembaga gereja dan memastikan bahwa kekuasaan dijalankan sebagai “pelayanan yang otentik.”

Dikasteri itu menganggap perlu untuk mengatur masa jabatan dalam memimpin, sehubungan dengan durasi dan jumlahnya, serta keterwakilan lembaga-lembaga itu.



Langkah itu bertujuan untuk mendorong pembaruan yang sehat dan untuk mencegah penyelewengan yang sudah mengarah pada pelanggaran dan penyalahgunaan.

Keputusan baru itu membatasi masa jabatan pada badan pemerintahan pusat hingga maksimal lima tahun.

Seseorang hanya diperbolehkan untuk memegang posisi pada tingkat pemerintahan internasional tidak lebih dari 10 tahun berturut-turut. Pemilihan kembali hanya dimungkinkan setelah terjadi kekosongan selama satu periode.

Dekrit itu menyatakan bahwa para pendiri dapat dikecualikan dari batasan masa jabatan atas kebijaksanaan Dikasteri Awam, Keluarga, dan Kehidupan.

Peraturan yang ditandatangani oleh Kardinal Kevin Farrell, kepala dikasteri tersebut, mulai berlaku pada 11 September.

- Newsletter -

Dalam sebuah catatan, dikasteri itu mengatakan bahwa “jarang, bagi mereka yang dipanggil untuk memerintah, tidak adanya batasan dalam hal jabatan mendukung bentuk-bentuk perampasan karisma, personalisasi, sentralisasi, dan ekspresi referensi diri yang dapat dengan mudah menyebabkan pelanggaran serius terhadap martabat dan kebebasan pribadi, dan bahkan penyalahgunaan yang nyata.”

“Lebih lanjut, tata kelola yang buruk tak terhindarkan menciptakan konflik dan ketegangan yang merusak persekutuan dan melemahkan dinamisme misionaris.”

Menurut dikasteri, perubahan kepemimpinan dalam lembaga-lembaga pengambil keputusan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan yang kreatif dan merangsang investasi dalam pelatihan.

“Hal ini menghidupkan kembali kesetiaan pada karisma, memberikan kehidupan dan kemanjuran baru untuk menginterpretasi tanda-tanda zaman, dan mendorong aksi misionaris yang diperbarui,” kata pernyataan dikasteri.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest