Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Paus minta para uskup Asia menjadi pelayan, bukan manajer

Paus minta para uskup Asia menjadi pelayan, bukan manajer

Para pemimpin Gereja Katolik, terutama para uskup, harus “menjadi pelayan, bukan tuan atau manajer.”

Hal itu disampaikan Paus Fransiskus kepada para uskup Thailand dan Asia selama pertemuan mereka di kota Nakhon Pathom di distrik Sampran, sebelah barat Bangkok, pada 22 November.

“Kita juga adalah bagian dari orang-orang ini, kita dipilih untuk menjadi pelayan, bukan tuan atau manajer,” kata paus yang disebut-sebut sebagai sambutan paling keras yang dia sampaikan kepada para pemimpin gereja di Asia.

“Kita harus menemani mereka yang kita layani dengan kesabaran dan kebaikan, mendengarkan mereka, menghormati martabat mereka, selalu mempromosikan dan menghargai inisiatif kerasulan mereka,” tambahnya.

Paus Fransiskus mengingatkan para uskup bahwa banyak tanah mereka diinjili oleh umat awam yang berbicara “dalam dialek umat mereka” yang “tidak teoretis maupun ideologis.”

Pernyataan tersebut disampaikan paus sehari setelah dia menantang ribuan umat awam yang menghadiri Misa kepausan di Bangkok agar menjadi misionaris.

Paus memberi tahu para uskup, “jangan takut untuk turun ke jalan dan berhadapan langsung dengan kehidupan orang-orang yang dipercayakan” kepada mereka.

- Newsletter -

Di awal ceramahnya, ia meminta perhatian para pemimpin gereja bahwa pertemuan mereka berada di bawah “pengawasan” Beato Nicholas Bunkerd.

Paus bertemu dengan para uskup di Kuil Beato Nicholas Bunkerd Kitbamrung di kota Nakhon Pathom di distrik Sampran, sebelah barat Bangkok.

Beato Nicholas diutus sebagai seorang imam misionaris ke Thailand utara pada tahun 1930 di mana ia melatih para seminaris dan bekerja untuk membawa umat Katolik yang pindah agama untuk kembali kepada iman.

Pada saat sentimen anti-Kristen selama Perang Dunia II, ia ditangkap karena tindakan “anti-patriotik” dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

Dia melanjutkan pekerjaan misionarisnya di penjara, membaptis 68 rekan tahanannya. Dia meninggal karena TBC di rumah sakit penjara pada tahun 1944 pada usia 49.

Paus Fransiskus berharap para uskup akan terinspirasi oleh teladan dari “semangat besar untuk penginjilan” Beato Nicholas.

Dia mengingatkan mereka tentang kuasa Roh Kudus yang mendukung banyak misionaris “untuk tidak mengabaikan tanah, orang, budaya atau situasi apa pun.”

“Mereka berani dan tidak takut karena mereka tahu Injil adalah hadiah untuk dibagikan dan untuk semua orang,” katanya, menambahkan bahwa misi berarti menumbuhkan “indera penciuman.”

“Misi membutuhkan kepedulian seperti seorang ayah dan ibu, karena domba hanya hilang ketika gembala menyerah dan membiarkannya hilang, dan bukan sebelumnya,” katanya.

“Kita bukan yang bertanggung jawab atas misi,” kata Paus Fransiskus. “Kita telah diubah oleh Roh untuk mentransformasi di mana pun kita berada,” tambahnya.

Peringatan 50 tahun pendirian Federasi Konferensi Para Uskup Asia tahun depan harus menjadi “kesempatan yang pas” untuk meninjau kembali “akar misionaris yang meninggalkan jejak mereka di tanah-tanah ini,” kata paus.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest