Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Alam pun menanti untuk kita kasihi dan pahami

Alam pun menanti untuk kita kasihi dan pahami

Pada suatu pagi yang cerah, saat fajar merekah, saya menyaksikan mukjizat yang sering terlupakan. Seperti halnya pada hari kerja biasa saya, di mana saya menemukan diri saya terjebak dalam lalu lintas yang padat, pada saat yang tidak biasa inilah saya jatuh cinta pada matahari yang baru saja terbit dan perlahan-lahan beranjak naik.

Dalam kurun waktu lebih dari lima menit, sambil menunggu mobil-mobil di depan saya untuk bergerak maju, saya menyaksikan di depan mata saya sesuatu pemandangan paling indah dan mungkin salah satu dari obat penenang paling efektif dan alami untuk kehidupan kita yang penuh tekanan.

Bahkan sekarang, pemandangan itu terus membangkitkan refleksi tajam pada arah yang kita telah tetapkan untuk sejarah kita di era modern.

Gambaran mental apa pun yang saya miliki tentang fajar atau senja – atau pada kenyataannya, segala aspek keagungan alam – menjadi “kartu pos” tidak bergerak, yang menampilkan sebagian besar gambar yang jernih secara komersial dari lingkungan kita, yang dengan mudah menyelinap dan mengaburkan kerusakannya yang merata, serta menyembunyikan kehancuran akibat pembalasan amarahnya yang dahsyat.

Bagi saya alam telah menjadi -dan mungkin bagi banyak kaum urban seperti saya – sebuah realitas yang dingin dan tidak dapat diprediksi, yang manifestasinya sudah asing bagi cara hidup kita sehari-hari. Alam tidak lagi dianggap sebagai kenyataan yang dinamis, yang bernafas, atau sebagai teman dalam pencarian jawaban atas pertanyaan kehidupan. Dia lebih merupakan musuh, gangguan bagi masalah ekonomi kita yang kecil, membiakkan dalam diri kita sebuah pola pikir yang tampaknya tidak dapat diubah lagi bahwa “alam harus menyesuaikan diri dengan dominasi manusia” dan bukan sebaliknya.

Lima menit yang tak terlupakan itu terus-menerus mengingatkan saya pada kosmos yang “bergerak”, meskipun gerakannya tentu saja, hampir tidak dapat dilihat dari sudut pandang yang menguntungkan ketika beberapa “detik” dari peristiwa kosmik mungkin setara dengan masa hidup manusia.

Alam adalah teman, menunggu untuk ditemani dan dipahami, sebagai leviathan (monster laut) yang besar namun jinak yang rahasianya dapat memperdalam pemahaman kita tentang penciptaan Roh yang tampak membingungkan. Alam bukanlah halangan bagi kemajuan manusia, tetapi mitra yang berpotensi kuat dalam usaha manusia di masa depan yang baru .

- Newsletter -

Sesungguhnya alam -seperti dalam lima menit menjelang fajar, menghilangkan keletihan dan tekanan yang datang bersamaan dengan penataan lingkungan yang kita buat sendiri. Sangat ironis untuk berpikir bahwa kita terus-menerus melelahkan diri kita sendiri, membangun gambaran “alami” yang kita inginkan, sementara menolak untuk diremajakan oleh gambaran yang tidak dapat kita buat kembali.

Adalah suatu ironi untuk berpikir bahwa kita tampaknya tidak akan pernah bahagia dengan apa yang telah kita ciptakan … dan bahwa kita hanya akan bahagia dengan apa yang telah diciptakan oleh Roh saja.

Alam menawarkan kepada kita sebuah portal untuk keluar dari diri kita sendiri, dan melihat kepalsuan yang telah kita capai tanpa pikir panjang. Ini adalah kesempatan untuk melihat siapa kita sebenarnya, terutama jika dibutakan oleh kesombongan bawaan kita, kita mengalami kesulitan untuk melakukannya. Ini adalah kesempatan untuk melihat kebodohan dari kesombongan dan ketamakan kita, serta melihat kebijaksanaan dan kerendahan hati.

Kepada pendiri spiritual kami, Fransiskus dari Assisi, alam menawarkan diri sebagai pintu gerbang kepada Roh, sebuah tempat indah untuk memelihara hubungan supernatural dan untuk membangkitkan cinta ilahi. Baginya, lingkungan sekitarnya adalah makhluk yang hidup, yang dapat merasakan dan berbicara untuk dirinya sendiri; sebuah fenomena eksistensial yang dapat menyembuhkan dan juga bisa terluka; organisme hidup yang bisa melawan ketika diprovokasi.

Dengan demikian, nasihat Fransiskan saya sederhana: Kita tidak boleh berani melewatkan tanda-tanda dan keajaiban alam karena mereka secara akurat mencerminkan sifat-sifat dari Roh penciptanya – seperti alam, Tuhan berbicara dan kita harus mendengarkan; Tuhan menyembuhkan yang harus kita syukuri; Tuhan mencintai tetapi juga bisa terluka oleh tanggapan tanpa cinta kita, dan dengan demikian dapat menuntut dari kita batasan tak terhingga dari keadilan surgawi.

Karena itu, alam dapat benar-benar disebut “ibu,” jika kita dikondisikan oleh konteks sosial kita untuk menyebut Roh sebagai “ayah.” Alam memberi dan menopang kehidupan, seperti halnya ibu manusia; sementara Roh memerintahkan kehidupan antara anak-anak dan ibu mereka, seperti ayah manusia. Meskipun sang ibu dilahirkan dari ayah, keduanya layak untuk kita puja, karena kita hanyalah makhluk yang sangat kecil, tergantung sepenuhnya pada pemeliharaan mereka.

Namun, dalam pemikiran religius kontemporer, kita sepatutnya memberikan sebagian besar pujian kita untuk Roh, dan menyimpan sisa kekaguman kita atas kemampuan kita sendiri. (Namun pada kenyataannya, bagi banyak dari kita di era pasca-modern, proporsi ini terbalik). Tapi ke manakah perginya rasa hormat terhadap ibu alam?

Orang-orang pada zaman dulu tampaknya secara intuitif merasakan kebutuhan akan rasa hormat ini. Mereka telah menempatkan dalam kecerdasan sakral purba mereka – yang kita di zaman modern ini, sering anggap sebagai “tidak canggih” – hierarki berkah dan penghormatan yang tepat, pertama kepada bapa Roh, dan lalu ibu alam .

Perhatikan bahwa mereka hampir tidak meninggalkan ruang apa pun untuk mengangkat diri mereka sendiri ke tingkat para dewa. Mereka tahu betul tempat yang tepat mereka di kosmos, merangkul dan menyelaraskan, daripada memaksa dan mendominasi. Ini barangkali kosmologi yang lebih matang yang bisa kita pelajari dari zaman dahulu.

Unsur animistik dalam agama-agama yang telah lama terlupakan – dalam memahami Roh di alam inilah yang telah digantikan oleh antroposentrisme “beradab” kita.

Keanehan dalam sejarah manusia yang menyebabkan kita secara mengejutkan melihat diri kita jauh lebih terikat pada “ayah” daripada dengan “ibu” dan lebih buruk lagi, untuk secara mengejutkan melihat diri kita menaklukkan “ibu” sesuai dengan “instruksi ayah” dan ini sangatlah aneh.

Mungkin, agar kita dapat lebih menghargai inisiatif melawan kekerasan terhadap lingkungan, kita harus memikirkan kembali paradigma saat ini.

Kita telah secara efektif mengikis hubungan keluarga yang indah antara orang tua dan anak-anak, memisahkan ikatan antara maskulin dan feminin, yang hasilnya adalah hubungan yang hampir eksklusif ‘ayah.’

Kita menganggap hubungan baik dengan “ibu’ sebagai “penghinaan” seperti yang telah kita lihat dalam kontroversi baru-baru ini seputar ekspresi pemujaan spiritual untuk sifat ibu yang dianggap ilahi dalam sinode Amazon.

Mari kita pikirkan lagi: apakah Anda berpikir bahwa menunjukkan kesetiaan kepada ayah kita dengan menolak pasangannya dan ibu kita, dia akan bahagia?

Brother Jess adalah Bruder dari Ordo Fransiskan Sekuler. Dia menjadi pemimpin Persaudaraan Santo Pio dari Pietrelcina di Paroki Santo Fransiskus Asisi di Kota Mandaluyong, koordinator Kelompok Doa Padre Pio dari Kapusin di Filipina, dan penasihat penjara dan katekis untuk Biro Manajemen Penjara dan Pidana.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pendapat penulis dan tidak mencerminkan sikap editorial LICAS News.


© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest