Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Kardinal Tagle: Gereja Asia perlu lebih banyak mendengarkan wanita, kaum muda

Kardinal Tagle: Gereja Asia perlu lebih banyak mendengarkan wanita, kaum muda

Kardinal Luis Antonio Tagle, yang baru saja ditunjuk untuk memimpin Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa, mendesak para uskup Asia untuk melibatkan lebih banyak perempuan dan orang-orang muda dalam badan komunikasi mereka.

Kardinal juga mengingatkan para pemimpin gereja bahwa mendengarkan adalah keterampilan komunikasi yang penting yang diperlukan dalam membangun kepercayaan di antara komunitas dan masyarakat.

Hal itu disampaikan prelatus Manila itu pada pertemuan para anggota Deparmen Komunikasi Sosial Federasi Konferensi Para Uskup Asia di Manila pada 10 Desember.

“Beberapa komunikator terbaik adalah wanita,” kata kardinal. “Tapi lihat kita di sini,” katanya yang mengundang tawa. “Kita tidak saja laki-laki, kita adalah laki-laki selibat,” tambahnya.

Hanya ada satu biarawati di pertemuan itu.

“Kita membutuhkan seorang ibu atau anak muda yang lebih mengentahui dunia digital daripada saya,” kata Kardinal Tagle. “Jika mereka dilatih dalam Injil, mereka dapat memberi kita nasihat yang berharga,” katanya.

Dengan gaya humor khasnya, kardinal bercanda bahwa setiap kali dia menelepon ke rumah, ayahnya menjawab singkat, dan hanya menanyakan tentang kesejahteraannya, selanjutnya segera menyerahkan telepon kepada ibunya.

- Newsletter -

“Dengan ibuku, komunikasi sulit dihentikan,” katanya sambil tertawa.

Pentingnya melibatkan orang

Pernyataan Kardinal Tagle tampaknya memberikan petunjuk jalan apa yang akan diambilnya dalam tugas barunya di Vatikan.

“Memiliki gedung yang indah itu sendiri tidak menjamin penginjilan,” kata kardinal. “Yang penting adalah pelatihan dan pembentukan orang,” tambahnya.

Kardinal Rainer Maria Woelki dari Cologne bergabung dengan Kardinal Tagle dalam peletakan batu pertama untuk Institut Komunikasi Sosial Veritas Asia di Quezon City.

“Ketika saya masih kecil, beberapa pelajaran kateketik yang paling berkesan diajarkan di bawah pohon,” kata Kardinal Tagle dalam sambutan yang dibuat saat upacara peletakan batu pertama.

“Jika saya ditanya di mana kami mendapatkan pelajaran kateketik ini, saya tidak dapat menyebutkan nama bangunan mana pun. Anak-anak dikumpulkan. Kami punya kue. Kami punya permen. Dan kami datang ke pelajaran,” katanya.

Kardinal Luis Antonio Tagle (kiri), kepada Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa yang baru, memimpin peletakan batu pertama gedung Institut Komunikasi Sosial Veritas Asia di Manila pada 10 Desember, bersama Kardinal Rainer Maria Woelki dari Cologne, Jerman. (Foto milik Radio Veritas Asia)

Pemimpin Gereja perlu mendengarkan

Kardinal Tagle memberi tahu para uskup bahwa evangelisasi adalah komunikasi.

“Tuhan adalah Tuhan yang berkomunikasi, yang berdialog. Tetapi Dia juga seorang Tuhan yang mendengarkan, ”kata Kardinal Tagle.

Dia mendesak para uskup untuk memelihara “spiritualitas  mendengarkan Allah dan sesama, dan tanda-tanda zaman.”

“Kita semua terburu-buru, bergegas untuk mengatakan sesuatu, mengeluarkan pernyataan bahkan ketika kita belum mendengar,” katanya.

“Kita sudah menyiapkan sesuatu tanpa mengetahui apa pertanyaan atau pernyataannya,” katanya yang menuai tawa di antara para klerus.

“Mendengarkan harus lebih dulu,” kata kardinal.

“Banyak orang merindukan seseorang dan komunitas untuk mendengarkan mereka. Bahkan jika Anda tidak berbicara, anda mengkomunikasikan kehadiran, belas kasih, dan persatuan anda,” katanya.

Dia mengutip Paus Fransiskus sebagai contoh yang baik dari seseorang yang menyebarkan budaya komunikasi orang per orang.

Paus, katanya, menjangkau orang-orang yang melambangkan kelas atau kelompok yang sering menghadapi diskriminasi untuk mengirim pesan solidaritas yang kuat, bahkan lintas agama.

Sementara kecerdasan baru diperlukan untuk menavigasi ranah revolusi digital dan kecerdasan buatan, Kardinal Tagle mengatakan Gereja harus mengasah jenis kecerdasan lain untuk memahami konteks.

Tanpa ini komunikator tidak dapat memecahkan ide-ide kompleks untuk memenuhi tuntutan era digital, katanya.

Kecerdasan relasional, lanjutnya, akan memungkinkan masyarakat untuk menghindari konflik sebelum ini meletus dan meningkatkan peluang untuk dengan cepat menyelesaikan pecahnya konflik.

Gereja, kata kardinal, juga sangat membutuhkan kecerdasan yang diilhami orang-orang yang menghasilkan kepercayaan dan kepercayaan diri yang lebih besar.

“Di dunia kita hari ini, (ada) begitu banyak ketakutan, kecurigaan dan prasangka. Kita tidak tahu siapa yang harus dipercaya, “katanya. “Kita membutuhkan orang-orang yang dapat menghasilkan atmosfer kepercayaan itu.”

Para uskup Asia di bawah Kantor Komunikasi Sosial bertemu di Manila minggu ini dengan tema “Komunikasi Pastoral di Asia Hari Ini: Tantangan dan Peluang untuk Era Digital.”

Prefek Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa

Vatikan mengumumkan penunjukan Kardinal Tagle pada 8 Desember, pada Pesta Maria Dikandung Tanpa Noda.

Dalam jabatan barunya, kardinal itu akan mengawasi pekerjaan Gereja di sebagian besar keuskupan di Afrika, Asia, dan Oseania, sekitar sepertiga dari 4.000 keuskupan di dunia.

Saat ini Tagle mengepalai Caritas Internationalis, sebuah konfederasi sedikitnya 165 badan amal Katolik di seluruh dunia.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest