Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Siapakah yang cocok menjadi uskup agung Manila yang baru?

Siapakah yang cocok menjadi uskup agung Manila yang baru?

Penunjukan Kardinal Luis Antonio Tagle dari Manila sebagai kepala Kongregasi Evangelisasi untuk Bangsa-Bangsa membuat kekosongan di Filipina

Ada harapan bahwa Paus Fransiskus akan segera menunjuk uskup agung baru untuk Manila  untuk menggantikan Kardinal Tagle.

Siapa pun yang akan diangkat sebagai uskup agung baru Manila, yang diharapkan adalah seseorang yang menonjol dalam dua tahun terakhir pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte, yang masa jabatannya berakhir pada 2022.

Uskup yang baru harus memberikan nasihat kepada umat Katolik dan seluruh bangsa karena pemilihan presiden baru diadakan pada tahun yang sama.




Duterte telah berulang kali marah dan menyerang para uskup Katolik dan ajaran-ajaran Katolik, untuk menunggangi kekecewaan publik terhadap para pemimpin gereja.

Ini juga bisa merupakan cara bagi presiden untuk membatasi  “serangan” yang dilakukan para pemimpin gereja pada “perang melawan narkoba,” dukungan Duterte pada keluarga mantan diktator, sikap pro-China, dan serangan pemerintahnya terhadap masyarakat adat dan orang miskin.

Paus Fransiskus tidak secara langsung berbicara tentang masalah-masalah Filipina, tetapi ia dapat mengirim telegram tentang pandangannya dengan penunjukan uskup agung Manila yang baru.

- Newsletter -

Selalu ada kemungkinan bahwa paus akan menunjuk seorang uskup agung baru yang lantang yang bisa menyuarakan hati nurani dalam menghadapi banyak tantangan yang dihadapi negara.

Progresif? Mungkin

Meskipun saat ini, akan sangat baik jika uskup baru Manila adalah pejuang bagi orang miskin, baik mereka yang tinggal di gubuk atau masyarakat adat terlantar yang kadang-kadang datang ke Manila untuk menantang kebijakan negara tentang lingkungan, masalah utama yang menjadi perhatian paus.

Paus bisa saja mengutus seorang gembala ke Manila yang dapat melayani keluarga dan orang-orang yang selamat dari pembunuhan di luar proses hukum yang telah memisahkan puluhan ribu keluarga. Lebih penting lagi, uskup baru dapat membantu keluarga-keluarga ini bekerja demi keadilan.

Paus telah menunjuk sejumlah besar uskup yang kemudian menjadi aktivis dan progresif, terutama selama masa kediktatoran Marcos. Mereka dengan setia melayani keuskupan mereka dan menjadi teladan kepemimpinan moral.

Ratusan orang Filipina bergabung dalam prosesi Our Lady of La Naval di Manila pada 24 Januari. (Foto oleh Maria Tan)

Banyak uskup seperti itu, misalnya Antonio Fortich dari Bacolod, yang akan diakui sebagai pahlawan. Kardinal Jaime Sin dari Manila menjadi tokoh penting dalam kebangkitan rakyat tahun 1986 dan 2001.

Ferdinand Marcos dan penggantinya juga memiliki uskup konservatif yang membantu melegitimasi kebijakan yang kontroversial dan bermasalah.

Beberapa kemudian terlibat dalam skandal, seperti dalam kasus “uskup-uskup Pajero” di bawah Gloria Macapagal Arroyo.

Konferensi para uskup Filipina juga telah berusaha mempengaruhi kebijakan publik agar sesuai dengan ajaran gereja, seperti menentang RUU kesehatan reproduksi dan RUU anti-diskriminasi, serta RUU yang melegalkan perceraian.

Langkah-langkah para uskup konservatif ini telah membuat mereka terasingkan dari banyak umat beriman, yang mendukung langkah-langkah positif dan progresif, dan terus berharap bahwa iman Katolik mereka akan relevan dengan perubahan zaman, inklusif, dan berpihak pada kaum miskin.



Penunjukan prelatus baru Manila oleh Paus Fransiskus akan dilakukan pada saat Gereja Filipina merayakan peringatan 500 tahun kedatangan agama Kristen di negara itu.

Gereja yang sama menghadapi banyak peluang untuk dialog ekumenis dan antaragama dengan tradisi dan komunitas Kristen lainnya, Islam, dan agama lain di negara ini.

Karena ia telah mengunjungi Filipina dan bertemu dengan orang-orang Filipina pada tahun 2015, paus seharusnya sudah memiliki perspektif tentang apa yang dibutuhkan oleh keuskupan Manila sekarang.

Gereja Manila telah menjadi lebih kecil setelah munculnya keuskupan sufragan, tetapi terus memiliki peran yang luas dan menonjol di bagi umat beriman.

Kita mungkin tidak memiliki uskup utama di Filipina, dan mungkin para uskup tidak akan menyetujuinya, tetapi uskup agung Manila adalah yang terdekat dengan itu yang bisa kita miliki.

Keuskupan Agung Manila adalah keuskupan tertua di Asia, yang dibentuk pada masa penjajahan Spanyol di negara kepulauan itu, ketika Manila menjadi sebuah paroki dan kemudian keuskupan di bawah Meksiko.

Manila diangkat menjadi keuskupan agung pada 1595, tetapi baru pada 1946 Takhta Suci menunjuk uskup Filipina pertama untuk Manila.

Itu terjadi beberapa dekade setelah para imam Filipina mulai menyerukan “filipinaisasi” para imam. Hal itu menjadi tuntutan utama dan aspirasi revolusi Filipina tahun 1896 melawan Spanyol.

Antara 1896 dan 1946, atau kira-kira 50 tahun, revolusi melanda Manila dan seluruh negeri, penjajah baru mengambil alih, dan negara itu kemudian mencapai kemerdekaan.

Tonyo Cruz adalah blogger Filipina, kolumnis surat kabar, dan pendiri aliansi media dan seni Let’s Organie for Democracy and Integrity. Pandangan dan pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah dari penulis dan tidak mencerminkan posisi editorial resmi LiCAS.news.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest