Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Umat Kristen di Tiongkok ditahan di fasilitas 'transformasi' rahasia

Umat Kristen di Tiongkok ditahan di fasilitas ‘transformasi’ rahasia

Umat Kristen di Tiongkok ditahan di fasilitas “transformasi” rahasia yang berpindah-pindah oleh otoritas komunis sebagai bagian dari upaya untuk memaksa mereka meninggalkan keyakinan mereka.

Sebuah laporan Radio Free Asia mengutip seorang Kristen di provinsi barat daya Sichuan yang mengaku ditahan di fasilitas yang dikelola oleh polisi dan Partai Komunis China (PKC).

Sumber yang meminta agar diidenfitikasi saja sebagai Li Yuese mengatakan dia ditahan selama 10 bulan setelah penggerebekan di gerejanya pada tahun 2018.



“Itu adalah fasilitas bergerak yang bisa dipasang di beberapa ruang bawah tanah di suatu tempat,” kata Li dalam wawancara dengan RFA. “Fasilitas itu dikelola oleh orang-orang dari beberapa departemen pemerintah yang berbeda.”

Ia mengatakan fasilitas itu memiliki komite urusan politik dan hukum sendiri yang terutama menargetkan orang Kristen yang menjadi anggota gereja rumah.

Partai Komunis China melakukan kontrol ketat atas segala bentuk praktik keagamaan warganya.

Petugas polisi keamanan negara dan biro urusan agama sering kali menggerebek “gereja rumah” tidak resmi yang bukan merupakan anggota Asosiasi Patriotik Tiga-Diri.

Partai komunis memandang agama Kristen sebagai agama impor yang berbahaya dan dokumen-dokumen partai memperingatkan adanya “infiltrasi kekuatan musuh Barat” dalam bentuk agama.

- Newsletter -

RFA melaporkan bahwa Li ditahan di sebuah ruangan tanpa jendela di mana dia dilaporkan dipukuli, dianiaya secara verbal, dan disiksa secara mental.

Li mengatakan sebagian besar rekan-rekan yang ditahan bersamanya juga orang-orang yang telah dibebaskan dengan jaminan karena ikut serta dalam kegiatan yang berhubungan dengan gereja.

Seorang Kristen lainnya yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada RFA bahwa fasilitas serupa digunakan di seluruh Tiongkok.

Seorang pengacara bermarga Zhang dari provinsi Hebei mengatakan dia mewakili sejumlah mantan tahanan yang beragama Katolik.

“Tempat pencucian otak ini mirip dengan yang digunakan pada Falun Gong,” katanya seraya menambahkan bahwa dia bertemu beberapa imam yang memberitahunya tentang apa yang terjadi.

“Setelah pejabat urusan agama menangkap para uskup dan para imam, mereka tidak mengajukan tuntutan pidana. Mereka menghilang begitu saja, kadang-kadang selama lima, enam atau bahkan 10 tahun berturut-turut,” kata pengacara itu.

Zhang mengatakan dia curiga fasilitas “transformasi” telah berjalan lama di seluruh Tiongkok.

Sebuah laporan oleh majalah online Bitter Winter pada November 2020 mengungkapkan metode yang digunakan di pusat-pusat tersebut, mulai dari pemukulan hingga penyiksaan, termasuk mandi air dingin dengan suhu di bawah nol, dan memaksa para tahanan membawa ember besar berisi air di sekitar leher mereka.

Diperkirakan ada 68 juta umat Protestan di Tiongkok, di antaranya 23 juta beribadah di gereja-gereja yang berafiliasi dengan negara di bawah Asosiasi Patriotik Tiga-Diri.

Umat Katolik dinegara itu diperkirakan mencapai 10-12 juta, kira-kira separuhnya adalah bagian dari Gereja bawah tanah, sementara setengah lainnya beribadah di jemaat yang direstui negara.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest