Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Para uskup Katolik India sebut lonjakan COVID-19 akibat kelalaian pemerintah

Para uskup Katolik India sebut lonjakan COVID-19 akibat kelalaian pemerintah

Para uskup Katolik di India mengatakan bahwa pemerintah yang merasa puas diri dan lalai telah menyebabkan lonjakan infeksi COVID-19 baru-baru ini di negara tersebut.

“Bisa dikatakan bahwa penyebab utama dari situasi tragis ini adalah rasa puas diri dari pemerintah dan kurangnya hati nurani (dari) publik,” kata Uskup Agung Prakash Mallavarapu, presiden Komisi Kesehatan Konferensi Waligereja India.

“Kelalaian menyebabkan beban bagi semua orang sementara negara berjuang di tengah rekor peningkatan kasus infeksi,” kata prelatus itu kepada kantor berita Katolik Agenzia Fides.




Ia mengatakan telah terjadi “kesalahan besar dalam evaluasi oleh pemerintah dan masyarakat umum” pada situasi tersebut. Terlalu sedikit perhatian diberikan pada aturan jarak sosial, dan pemerintah lalai dalam menerapkan aturan tersebut.

Uskup agung itu mengatakan pemerintah seharusnya mempertimbangkan secara serius bahwa kebanyakan orang di India adalah warga miskin dan isolasi yang berkepanjangan dapat mengakibatkan kesengsaraan bagi warga paling miskin. Namun, pelonggaran penerapan aturan itu mengakibatkan “keadaan darurat nasional yang tragis,” kata uskup agung itu.

Uskup Indore Mgr Chacko Thottumarickal di negara bagian Madhya Pradesh melaporkan bahwa banyak orang di keuskupannya yang sudah sekarat.

“Saya kenal satu keluarga Kristen yang terinfeksi dan meninggal,” katanya, dan menambahkan bahkan seorang uskup muda telah dilarikan ke rumah sakit.

Seorang pria berjalan melewati tumpukan mayat korban COVID-19 yang akan dikremasi massal di New Delhi, India, 26 April. (Foto oleh Adnan Abidi/Reuters)
- Newsletter -

Setidaknya 14 imam Katolik di India dilaporkan meninggal karena COVID-19 dalam beberapa pekan terakhir, sehingga total lebih dari 20 imam yang meninggal karena virus itu selama sebulan terakhir, menurut situs berita online Matters India.

Pastor Cedric Prakash SJ mengatakan kepada Agenzia Fides bahwa situasi di seluruh India “dalam keadaan kacau.”

“Orang-orang sekarat karena kekurangan pasokan medis. Pasien mengantri untuk perawatan selama berjam-jam, sementara krematorium tidak dapat menampung dan membuang banyak mayat,” kata imam yang tinggal di Gujarat di India barat itu.

“Pemerintah terang-terangan berbohong tentang angka-angka resmi dari kenyataan yang menyedihkan ini. Seringkali kasus kematian dan infeksi tidak dilaporkan,” kata imam itu. “Tinggal menunggu waktu saja. Pemerintah federal dan negara bagian harus bertindak cepat untuk menyelamatkan negara dari pandemi,” tambahnya.

Pastor Prakash mengatakan India “menghadapi beban bencana karena ketidakmampuannya untuk membatasi pertemuan publik yang tidak perlu seperti kerumunan besar … seperti olahraga, politik atau agama.”

Imam itu mengatakan kerumunan terus terjadi untuk menonton pertandingan kriket, menghadiri kampanye politik menjelang pemilihan, menghadiri perayaan pernikahan dan upacara serta pertemuan agama Hindu.

Pemerintah India memerintahkan angkatan bersenjatanya pada 26 April untuk membantu mengatasi infeksi virus corona yang melonjak, sementara negara-negara termasuk Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat menjanjikan bantuan medis yang mendesak untuk mencoba mengatasi keadaan darurat yang melanda rumah sakit negara itu.

Seorang wanita dengan masalah pernapasan menerima bantuan oksigen gratis di ‘Gurudwara’ (kuil Sikh) di Ghaziabad, India, 24 April. (Foto oleh Danish Siddiqui/Reuters)

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan situasi di India “sangat memilukan”.

Perdana Menteri India Narendra Modi mendesak semua warganya untuk divaksinasi dan berhati-hati di tengah “badai” infeksi, sementara rumah sakit dan dokter di beberapa negara bagian meunggunggah pemberitahuan mendesak bahwa mereka tidak dapat mengatasi arus masuk.

Di sejumlah kota yang paling parah terkena dampak, mayat-mayat dibakar di fasilitas darurat yang menawarkan kremasi massal.

Negara bagian Karnataka di selatan India di mana kota teknologi Begaluru berada, memerintahkan lockdown selama 14 hari mulai 27 April. Hal serupa juga dilakukan negara bagian Maharashtra, sebuah pusat industri, hingga 1 Mei, meskipun beberapa negara bagian juga ditetapkan untuk mencabut langkah-langkah lockdown pekan ini.

Kebijakan pembatasan tambal sulam, ditambah dengan pemilihan kepala daerah dan pertemuan festival massal, dapat memicu wabah di tempat lain, di mana infeksi meningkat sebesar 352.991 dalam 24 jam terakhir, sehingga menyebabkan rumah sakit kehabisan pasokan oksigen dan tempat tidur.

Jumlah kasus virus ini di India yang berpopulasi 1,3 miliar, mencapai 17,31 juta infeksi dan 195.123 kematian, dengan kematian terbaru tercatat 2.812 kematian dalam semalam. itu menurut data kementerian kesehatan, meskipun para ahli kesehatan mengatakan angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi.

Tambahan dari Reuters

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest