Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Aktivis: Penutupan Apple Daily oleh Tiongkok berimbas pada kebebasan beragama

Aktivis: Penutupan Apple Daily oleh Tiongkok berimbas pada kebebasan beragama

Benedict Rogers, salah satu pendiri Hong Kong Watch, mengatakan penindasan Apple Daily mewakili kematian kebebasan media di Hong Kong

Seorang aktivis hak asasi manusia mengatakan bahwa “pembunuhan” terhadap surat kabar pro-demokrasi di Hong Kong oleh Partai Komunis China ‘berdampak serius’ pada kebebasan beragama.

Benedict Rogers, salah satu pendiri Hong Kong Watch, mengatakan kepada Catholic News Agency bahwa pembredelan Apple Daily, yang didirikan oleh Jimmy Lai, seorang miliarder Katolik, bukan sekadar pukulan terhadap kebebasan pers.

“Pembunuhan Apple Daily oleh rezim Partai Komunis Tiongkok merupakan kematian kebebasan media di Hong Kong,” katanya melalui email.

“Ini adalah babak baru dalam pembatasan kebebasan oleh rezim itu sendiri di Hong Kong, dalam segala bentuknya, secara total, melalui pelanggaran mencolok dan berulang terhadap perjanjian internasional, yaitu Deklarasi Bersama Tiongkok-Inggris, yang terdaftar di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berlaku sampai 2047.”



Rogers mengatakan bahwa episode baru ini memiliki “implikasi serius bagi kebebasan beragama” karena dua alasan utama.

“Pertama, ketika kebebasan secara keseluruhan tidak dilindungi,  mau tidak mau kebebasan beragama, sebagai komponen kebebasan dan hak asasi manusia, akan digerogoti. Anda tidak bisa memisahkan kebebasan beragama dari hak asasi manusia lainnya,” tegasnya.

“Kedua, dan lebih khusus lagi, Apple Daily didirikan dan dimiliki oleh Jimmy Lai, seorang Katolik yang taat, dan selalu memperjuangkan kebebasan beragama. Saya tahu dari pengalaman saya sendiri sebagai kontributor mingguan Apple Daily bahwa surat kabar itu memberi saya kebebasan untuk menulis tentang iman dan agama dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh publikasi sekuler, media harian dengan pasar besar di mana pun di dunia ini.”

Warga Hong Kong mengantre berjam-jam pada pagi hari tanggal 24 Juni untuk membeli edisi terakhir Apple Daily. Pengelola surat kabar itu mengatakan media itu wajib tutup setelah polisi membekukan asetnya senilai $2,3 juta dan menangkap lima editor senior dan eksekutif di bawah undang-undang keamanan nasional yang ketat, yang diberlakukan pada Juni 2020.

- Newsletter -

Lai yang mendirikan Apple Daily pada 1995 ditangkap pada Agustus 2020, karena dugaan pelanggaran hukum dan dipenjara hingga April 2021. Ia dijatuhi hukuman tambahan 14 bulan lagi karena “pertemuan tidak berijin.”

British human rights campaigner Benedict Rogers / Courtesy photo
Benedict Rodgers, juru kampanye hak asasi manusia asal Inggris

Rogers, yang masuk Katolik pada tahun 2013 dan tinggal di London, Inggris, menekankan bahwa dia tidak berargumen bahwa penutupan Apple Daily dan pemenjaraan Jimmy Lai adalah masalah kebebasan beragama.

“Tetapi saya mengatakan bahwa pembunuhan surat kabar ini, pemenjaraan Jimmy Lai, kematian kebebasan media, memiliki konsekuensi bagi kebebasan beragama. Ketika Anda membungkam kebebasan berekspresi, mau tidak mau Anda membungkam kebebasan beragama,” katanya.

“Dan lebih jauh lagi, sejak diberlakukannya undang-undang keamanan nasional yang kejam setahun yang lalu di Hong Kong, kami telah melihat bahwa kebebasan beragama terpengaruh – setidaknya satu gereja yang memberikan dukungan pastoral kepada aktivis pro-demokrasi telah digerebek, rekening banknya dibekukan dan gereja sekarang ditutup.”

Rogers yang dilarang masuk ke Hong Kong pada Oktober 2017 dan kemungkinan dilarang masuk kota itu seumur hidup, menuduh keuskupan Katolik setempat melakukan “sensor diri.”

Ia mengacu pada surat pastoral yang ditulis Kardinal John Tong Hon kepada para imam setelah pengesahan undang-undang keamanan nasional, memperingatkan mereka tentang perlunya para imam ‘memperhatikan tutur kata‘ dalam homili.

“Kita mungkin tidak melihat kebebasan beribadah – hak untuk pergi Misa pada hari Minggu – terpengaruh, dan kita mungkin tidak melihat penghancuran gereja dan salib di Hong Kong seperti yang kita lihat di daratan Tiongkok. Tetapi kita sudah melihat pembatasan kebebasan beragama dan hati nurani misalnya pada apa yang seharusnya disampaikan oleh para imam,” kata Rodgers.

Uskup Agung Paul Gallagher, Sekretaris Hubungan Antarnegara (setara Menteri Luar Negeri) Vatikan, mengatakan pekan lalu bahwa dia tidak yakin berbicara tentang situasi di Hong Kong akan membuat perbedaan.

“Orang dapat mengatakan banyak kata-kata yang pantas yang akan dihargai oleh pers internasional dan oleh banyak bagian dunia, tetapi saya — dan, saya pikir, banyak rekan saya juga — belum diyakinkan bahwa itu akan membuat perbedaan apa pun,” kata Gallaher.

Rogers berpendapat bahwa Tahta Suci memiliki kewajiban untuk berbicara.

“Masyarakat internasional, termasuk khususnya Vatikan, harus angkat bicara. Kalau bukan kita yang angkat bicara, siapa lagi?” kata Rodgers.

“Dan negara-negara demokrasi harus bekerja bersama, untuk mengoordinasikan sanksi dan tekanan. Jika dunia bebas bersatu dan memberi tekanan pada rezim Partai Komunis Tiongkok, itu akan sangat membantu.”

“Jika tetap diam dan menyetujui penindasan, maka penindasan di Hong Kong tidak hanya akan meningkat, tapi akan merembet  menjadi agresi terhadap Taiwan dan serangan terhadap kebebasan kita sendiri.”

Jadi adalah berkepentingan semua orang untuk berhadapan dengan Partai Komunis Tiongkok, dan mengatakan cukup sudah, dan mengoordinasikan tindakan untuk membatasi dan memegang kendali. Kegagalan untuk melakukan itu adalah kegagalan moral total dan penyerahan total pada kejahatan.” – Catholic News Agency.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest