Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Umat Katolik tuduh pemerintah India tidak adil karena ijinkan festival Hindu

Umat Katolik tuduh pemerintah India tidak adil karena ijinkan festival Hindu

Sejumlah pemimpin Gereja Katolik di India menuduh pemerintah berlaku tidak adil karena mengizinkan umat Hindu mengadakan upacara tradisional mereka minggu ini, sementara tindakan ketat diberlakukan pada agama lain.

“Kemunafikan  dan standar ganda pemerintah nampak sangat jelas dalam hal ini,” kata Pastor Anand Mathew dari Serikat Misionaris India kepada situs berita Crux, mengacu pada festival Kumbh Mela atau festival kendi, salah satu ziarah paling suci dalam agama Hindu, yang diadakan minggu ini.

Ratusan ribu pertapa dan umat Hindu yang taat berlumuran abu dan berdesak-desakan untuk berenang di Sungai Gangga selama festival keagamaan pada 14 April, dengan harapan untuk menghapus dosa-dosa mereka, pada saat India melaporkan lonjakan infeksi virus corona.



Polisi mengatakan 650.000 penganut Hindu mandi di sungai sejak pagi hari pada tanggal 14 April dan warga didenda karena tidak memperhatikan jarak sosial di beberapa daerah.

Kasus infeksi di kota melonjak tajam di atas 500 kasus per hari sejak festival Kumbh Mela, atau festival kendi, yang secara resmi dimulai bulan ini, dari hanya 25-30 kasus bulan lalu. Mereka yang ditemukan terinfeksi diisolasi di hotel oleh tim yang terdiri dari 300 staf medis yang melakukan 40.000 tes secara acak setiap hari.

“Bayangkan ada satu kasus COVID tanpa gejala di antara para peziarah. Dia akan menginfeksi banyak orang di sekitarnya,” kata Pastor Mathew, direktur Komunikasi Vishwa Jyoti di Varanasi.

Crux melaporkan bahwa kritik terhadap Perdana Menteri Narendra Modi dan partai nasionalis Hindu, Partai Bharatiya Janata mengatakan festival diizinkan meskipun terjadi pandemi karena pemerintah tidak ingin membuat marah umat Hindu, yang merupakan pendukung terbesar partai itu.

Umat Hindu berendam di Sungai Gangga selama Shahi Snan di “Kumbh Mela” atau Festival Kendi, di tengah kekhawatiran penyebaran COVID-19, di Haridwar, India, 14 April (Foto oleh Anushree Fadnavis/Reuters)
- Newsletter -

“Sekularisme di India tidak berarti menyangkal agama, tetapi perlakukan yang sama dan menghormati semua agama. Namun apa yang terjadi saat ini membuktikan bahwa kita tidak lagi sekuler. Ini menjadi perhatian utama kami yang berjuang untuk melindungi Konstitusi India,” kata Pastor Mathew.

Para ahli kesehatan telah mengimbau agar festival itu dibatalkan, tetapi pemerintah tetap mengijinkannya dengan mengatakan aturan keselamatan akan dipatuhi. Ada kekhawatiran bahwa peziarah dapat terinfeksi dan kemudian membawa virus itu kembali ke kota dan desa mereka di bagian lain negara itu.

Pastor Babu Joseph, mantan juru bicara Konferensi Waligereja Katolik India, mengatakan bahwa mengadakan Kumbh Mela “dalam skala besar” selama lonjakan infeksi virus corona “adalah pelanggaran berat atas tanggung jawab sipil.”

“Di sinilah komunitas agama lain telah menunjukkan contoh yang baik dengan kepatuhan terhadap norma-norma negara saat merayakan festival masing-masing,” katanya kepada Crux.

“Ini juga menunjukkan ketidakmampuan negara dalam menghadapi tekanan massa,” tambah imam itu. Ia mengatakan bahwa ketika orang dirasuki oleh sentimen agama yang berlebihan, “akal sehat mereka menjadi kabur.”

“Saya khawatir hal serupa terjadi di Kumbh Mela di mana motif agama yang kuat menjadi pedoman perilaku masyarakat, menyebabkan semua norma keselamatan dan keamanan menghilang di udara,” kata Pastor Joseph.

Pada 15 April, para pejabat kesehatan melaporkan bahwa banyak rumah sakit di negara itu sudah kekurangan tempat tidur dan oksigen karena infeksi COVID-19 melonjak dengan rekor harian baru.

Pasien COVID-19 menjalani perawatan di bangsal Rumah Sakit Lok Nayak Jai Prakash di New Delhi, India, 15 April (Foto oleh Danish Siddiqui/Reuters)

Total kasus infeksi India berada di posisi kedua setelah Amerika Serikat. Para ahli menyalahkan segala sesuatu, mulai dari kelambanan pemerintah. Pemerintah menyalahkan kegagalan warga menerapkan jarak fisik.

India telah memproduksi oksigen dengan kapasitas penuh dua hari terakhir, tetapi terpaksa harus impor. Kementerian kesehatan mengatakan mereka berencana untuk mengimpor 50.000 metrik ton.

Maharashtra, pusat keuangan  ibu kota Mumbai, mulai menerapkan lockdown pada tengah malam 14 April, sebuah langkah yang menyebabkan warga berbondong-bondong untuk menimbun barang-barang penting. Negara bagian itu yang merupakan bagian yang paling modern, terkena dampak pandemi paling parah.

Data kementerian kesehatan mengatakan India telah menambahkan lebih dari 200.739 infeksi selama 24 jam terakhir, yang merupakan lonjakan harian ketujuh dalam delapan hari terakhir, sedangkan kematian tercatat 1.038 sehingga menjadi  173.123.

Meskipun jumlah yang sudah divaksin tertinggi ketiga di seluruh dunia, itu baru sedikit dari total populasi India yang mencapai lebih dari 1,4 miliar jiwa.

India mengatakan pada 15 April bahwa pemerintah akan memutuskan penggunaan darurat untuk vaksin COVID-19 asing dalam tiga hari ke depan.

Tambahan dari Reuters

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest