Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Ratusan keluarga di Laos tersingkir dari rumah mereka demi pembangkit listrik

Ratusan keluarga di Laos tersingkir dari rumah mereka demi pembangkit listrik

Keluarga-keluarga pengungsi akan diberi kompensasi tetapi warga mengeluh karena kompensasi itu sangat kecil dibandingkan dengan nilai rumah dan pertanian mereka

Ratusan keluarga di bagian barat laut Laos ter12paksa meninggalkan rumah mereka untuk memberikan ruang bagi perluasan pembangkit listrik tenaga lignit.

Otoritas mengatakan keluarga-keluarga pengungsi akan diberi kompensasi, tetapi penduduk mengklaim bahwa kompensasi yang dijanjikan hanya sebagian kecil dari nilai pasar sebenarnya dari rumah dan lahan pertanian mereka.

“Pihak pabrik dan otoritas berwenang telah menyepakati untuk membayar [$0,12 atau sekitar 1.700 rupiah] per meter persegi untuk lahan pertanian dan [$0,20 atau 2.800 rupiah] per meter persegi untuk rumah dan fasilitas yang dibangun,” kata sebuah laporan Radio Free Asia mengutip seorang pejabat pemerintah provinsi.



Pembangkit listrik Hongsa yang berkapasitas 1.878 MW, sebuah pembangkit listrik tenaga lignit pertama di Laos, memulai operasi Tahap I pada tahun 2015.

Fase II dimulai pada tahun berikutnya setelah konstruksi selesai, dan sekarang pabrik sedang merencanakan Tahap III, yaitu perluasan.

Menurut Radio Free Asia, pembangunan pembangkit listrrik Hongsa di provinsi barat laut Xayaburi menyebabkan ribuan penduduk desa kehilangan tanah dan hanya sedikit kompensasi.

“Pabrik kami baru-baru ini mendapat konsesi baru berupa penambahan 2.700 hektar lahan untuk ekspansi Tahap III,” kata seorang anggota tim manajemen Hongsa.

“Lahan itu mencakup seluruh wilayah desa Kiw Ngiew dan sebagian desa Pang Bong di Kecamatan Ngeun, Provinsi Xayaburi,” katanya.

- Newsletter -

Desa Kiw Ngiew adalah tempat tinggal 115 keluarga, sementara 18 keluarga lainnya tinggal di desa Pang Bong.

Warga menuntut agar kompensasi yang diberikan lebih tinggi atas properti mereka. “Kami ingin bisa menjalani kehidupan seperti yang kami jalani saat ini,” kata seorang warga.

“Sebagian besar dari kami ingin tinggal karena kompensasinya terlalu rendah dan rumah baru akan jauh di bawah nilai rumah kami saat ini,” kata seorang warga lainnya.

“Kami masih tinggal di rumah kami di desa dan bertani di tanah kami sendiri untuk saat ini karena belum ada yang terjadi. Ketika kami harus pindah ke desa pemukiman, kami akan akan bertani di mana?”sambung warga lainnya.

“Seperti apa tanah yang akan kami dapatkan, jika ada? Yang kami tahu bahwa tanah baru terletak di atas gunung, tanpa akses air,” kata warga.

Selain korban manusia, ekspansi Hongsa akan merusak keanekaragaman hayati di daerah itu, kata seorang pejabat lingkungan kepada RFA.

“Ekspansi itu akan menyebkan sebagian besar hutan ditebang, menyebabkan satwa liar menghilang,” kata pejabat itu.

Para ahli kesehatan mengatakan bahwa pembangkit Hongsa berbahaya bagi mereka yang tinggal di dekatnya, dapat meningkatkan risiko kanker, masalah pernapasan, dan cacat lahir akibat terpapar polusi.

Pembangkit listrik Hongsa, seperti banyak bendungan pembangkit listrik tenaga air di Laos, menghasilkan listrik yang dijual ke negara-negara tetangga, sejalan dengan misi negara itu untuk menjadi “Baterai Asia Tenggara.

Kendati pemerintah Laos bertaruh pada pembangkit listrik untuk meningkatkan perekonomi negara, proyek tersebut kontroversial karena dampak lingkungan yang besar pada perikanan dan pertanian, dan menyebabkan pemindahan penduduk desa. – Ditambah dengan laporan dari Radio Free Asia

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest