Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Gereja di India selatan berantakan dibobol maling

Gereja di India selatan berantakan dibobol maling

Sebuah gereja di kota Bangalore, India selatan, menjadi berantakan akibat sebuah insiden yang menurut polisi setempat sebagai kasus pencurian.

Pembobolan di Gereja St. Fransiskus Assisi, di pinggiran kota Kengeri, Bangalore, pada 20 Januari merupakan ‘sakrilegi,’ kata Uskup Agung Bangalore, Peter Machado.

Penyusup diperkirakan masuk sekitar pukul 11 malam untuk mencuri kotak kolekte. Dia kemudian merusak altar, tabernakel dan artefak lainnya. Hostia juga berserakan di lantai di sekitar altar.




“Saya sangat terganggu, sangat terkejut dan juga sangat sedih bahwa penodaan ini dilakukan kepada Tuhan Yesus Kristus, yang hadir dalam Ekaristi Kudus,” kata Uskup Agung Machado.

Uskup agung itu mengatakan insiden itu bukan hanya “keprihatinan besar bagi umat paroki Paroki St. Fransiskus Assisi, tapi juga secara serius mempengaruhi sentimen kita semua di seluruh keuskupan agung, dan juga semua anggota komunitas Katolik di seluruh dunia.”

Hosti bertebaran di sekitar altar Gereja St. Fransiskus Assisi. (Foto disediakan)

Uskup Agung Machado mendesak para imam, biarawati, dan umat  untuk merayakan adorasi pada 24 Januari untuk menghormati,  memuliakan, dan menyembah Ekaristi setelah pembobolan itu.

“Saya telah meminta agar para pastor paroki dan kapelan agar mentahtakan Sakramen Mahakudus untuk adorasi… setidaknya selama 12 jam, dari pagi hingga sore hari, untuk penghormatan publik di semua gereja dan rumah-rumah kongregasi di keuskupan agung,” katanya.

- Newsletter -

Didirikan pada tahun 2002, paroki ini terletak di Kengeri, sebuah pinggiran kota sekitar 20 km barat Bengaluru, ibukota negara bagian India selatan Karnataka.

Laporan telah didaftarkan di kantor polisi Kengeri, meskipun pelaku masih buron.

Asisten Komisaris Polisi Kengeri, Krishna Kumar, mengatakan insiden itu dianggapk sebagai kasus perampokan. Masih belum diketahui apakah ada motif komunal di balik kejahatan tersebut.

Umat Kristiani mengalami 527 insiden kejahatan rasial pada 2019, naik dari 447 pada 2018, menurut data yang dikumpulkan oleh Persecution Relief, sebuah forum ekumenis yang mencatat diskriminasi terhadap orang Kristen di India.

Pembakaran, pengrusakan, atau penutupan gereja adalah beberapa dari serangan yang dicatat tahun lalu.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest